Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, membantah tegas bahwa negaranya sempat menghentikan pasokan intelijen ke Ukraina. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas klaim Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yang menyebut Washington sempat 'membekukan' lalu kembali mengaktifkan bantuan intelijen tersebut.
Dalam kunjungannya ke Uzbekistan, Rubio menegaskan tidak ada jeda dalam kerja sama intelijen. Menurutnya, fokus utama saat ini seharusnya adalah mengakhiri perang, bukan memperdebatkan status bantuan. Ukraina sendiri sangat bergantung pada sistem Starshieldāversi militer dari Starlinkāuntuk mendeteksi rudal balistik Rusia yang meluncur cepat ke kota-kota mereka.
Zelenskyy sebelumnya mengungkapkan bahwa beberapa serangan Rusia terjadi tanpa peringatan dini saat intelijen sempat terhenti. Meski kini akses sudah dibuka kembali, Zelenskyy menyoroti langkah kontroversial Washington lainnya: kesepakatan impor solar Rusia dan penghapusan sanksi yang seharusnya berlaku minggu ini. Ia memperingatkan bahwa jika AS benar-benar memihak Rusia, Ukraina akan kesulitan bertahan.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump membela keputusannya melonggarkan sanksi. Ia beralasan sedang bernegosiasi damai dan tidak ingin membuat Rusia menjauh dari meja perundingan. Trump bahkan menuduh Zelenskyy tidak memiliki niat tulus untuk mengakhiri perang, dan menuding Ukraina sengaja menyerang kilang minyak Rusia untuk memicu lonjakan harga bahan bakar yang merugikan Partai Republik menjelang pemilu sela November.
Analisis Dampak: Ketergantungan Ukraina pada sistem satelit militer AS menunjukkan bahwa pertahanan udara mereka tidak sepenuhnya mandiri. Jika pasokan intelijen ini benar-benar terputus secara permanen, kemampuan Ukraina mendeteksi rudal balistik akan lumpuh, membahayakan warga sipil. Sementara itu, manuver Trump yang melonggarkan sanksi demi menstabilkan harga minyak domestik menuai kritik keras, karena dianggap mengorbankan posisi geopolitik sekutu demi kepentingan elektoral dalam negeri.