AFRIKA SELATAN KEHILANGAN AKSES BEBAS PAJAK AS - Berita Dunia
← Kembali

AFRIKA SELATAN KEHILANGAN AKSES BEBAS PAJAK AS

Foto Berita

Jakarta - Amerika Serikat resmi mencabut status bebas bea masuk untuk Afrika Selatan dan Rwanda di bawah program African Growth and Opportunity Act (AGOA), berlaku efektif 1 Januari 2027. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, yang menyebut kedua negara gagal memenuhi kriteria kelayakan program tersebut.

Dampaknya tidak main-main. Afrika Selatan, yang selama ini menjadi penerima manfaat terbesar AGOA, mencatat ekspor senilai 1,7 miliar dolar AS ke Negeri Paman Sam pada 2025. Produk andalan yang terdampak meliputi kendaraan bermotor dan suku cadangnya, produk pertanian, hingga wine. Sementara Rwanda, yang sebelumnya juga sempat diskors pada 2018, akan kehilangan fasilitas serupa untuk komoditas kopi, teh, dan mineral.

Washington beralasan ada sejumlah isu mendasar yang membuat status bebas bea ini dicabut. Untuk Rwanda, AS menyoroti persoalan hambatan perdagangan, penegakan hukum, dan hak asasi manusia. Adapun untuk Afrika Selatan, pemerintah AS mengungkap kekhawatiran terkait hambatan investasi, praktik korupsi, hingga kebijakan luar negeri Pretoria yang dianggap mengancam kepentingan strategis AS.

Meski demikian, pemerintah Afrika Selatan tampak tidak kaget. Kementerian Perdagangan dan Industri mereka menyatakan sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk dari peninjauan ulang ini. Pretoria menegaskan bahwa ekspor via AGOA hanya menyumbang sekitar 10 persen dari total ekspor mereka ke AS, atau hanya 1 persen dari total ekspor global Afrika Selatan. Presiden Cyril Ramaphosa bahkan telah menginstruksikan jajarannya untuk mencari pasar baru dan mempercepat kesepakatan dagang dengan mitra alternatif seperti Tiongkok.

Analisis Singkat: Pencabutan ini bukan sekadar soal dagang, melainkan sinyal pergeseran hubungan geopolitik AS-Afrika. Bagi masyarakat Afrika Selatan, khususnya petani wine dan pekerja di sektor otomotif, ancaman PHK dan penurunan pendapatan menjadi risiko nyata. Namun, diversifikasi pasar ke Asia dan Timur Tengah bisa menjadi bantalan penyelamat jika pemerintah bergerak cepat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook