Lalu lintas penumpang udara global diperkirakan melonjak drastis, mencapai 10,2 miliar pada tahun 2026. Untuk menghadapi lonjakan ini, bandara di seluruh dunia mulai serius berinvestasi pada Kecerdasan Buatan (AI), sebuah langkah revolusioner yang dijanjikan akan mengubah total pengalaman perjalanan Anda.
Para pakar di ajang Airport AI Exchange mengungkapkan, AI kini menjadi tulang punggung operasional bandara. Fungsinya beragam, mulai dari mengelola alur penumpang agar tidak ada lagi antrean panjang di imigrasi atau gerbang, hingga melacak bagasi yang hilang, serta melakukan perawatan prediktif untuk pesawat dan fasilitas bandara. Teknologi ini bahkan memungkinkan check-in dan boarding otomatis, hingga imigrasi biometrik yang memungkinkan Anda melintas tanpa perlu menunjukkan paspor fisik.
Amad Malik, Chief AI Officer di Airport AI Exchange, menegaskan bahwa perkembangan AI sangat pesat sejak 2017. "Kemampuannya tumbuh secara eksponensial dalam dua tahun terakhir," ujarnya. Senada, Mahmood AlSeddiqi, mantan Wakil Presiden IT Bahrain Airport Company, menambahkan bahwa AI juga berperan besar dalam personalisasi layanan, membuat perjalanan lebih efisien dan sesuai preferensi tiap penumpang.
Namun, di balik optimisme ini, ada catatan penting. Malik menyoroti bahwa meskipun AI berkembang pesat, adopsinya di industri penerbangan masih tergolong 'negligible' atau minim. Ini disebabkan oleh ketergantungan pada sistem lama dan model operasional yang sangat berhati-hati. Artinya, integrasi AI di bandara bukan tanpa tantangan.
Meski begitu, dampak positifnya bagi masyarakat sangat signifikan. Penerapan AI berarti perjalanan udara yang lebih cepat, nyaman, dan minim stres. Bagi para pelancong, ini adalah kabar baik yang menjanjikan efisiensi dan pengalaman yang lebih personal. Tentu saja, privasi data menjadi perhatian utama, namun potensi AI untuk menciptakan bandara yang lebih pintar dan responsif terhadap kebutuhan penumpang jelas merupakan langkah maju.