Ribuan nyawa pelaut kini berada di ujung tanduk. Setidaknya 20.000 pelaut terdampar di Selat Hormuz, terjebak dalam krisis kemanusiaan akibat ketegangan geopolitik yang memanas di wilayah strategis tersebut. Kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, melontarkan peringatan keras: "Kami bisa mengasuransikan kapal, tetapi kami tidak bisa mengasuransikan nyawa manusia."
Pernyataan ini mencerminkan situasi genting di mana perusahaan asuransi membatalkan polis untuk pelayaran di area berisiko tinggi ini, meninggalkan ribuan pelaut dalam tekanan mental yang berat dan ancaman langsung terhadap keselamatan mereka. Mereka adalah para pekerja tak berdosa yang terjebak dalam pusaran konflik. Kondisi ini memicu seruan mendesak dari berbagai pihak untuk segera dibukanya koridor kemanusiaan dan upaya de-eskalasi agar krisis ini tidak semakin parah.
Selain dampak kemanusiaan yang mendalam, terganggunya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz ini berpotensi besar mengganggu rantai pasok global. Selat Hormuz merupakan arteri utama perdagangan minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan di sana bisa memicu kenaikan harga energi dan kelangkaan barang di pasar internasional. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak konflik geopolitik tidak hanya dirasakan di medan perang, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi dan keselamatan manusia di seluruh dunia.