Libya - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Libya yang berbasis di wilayah timur resmi mengganti ketua parlemen mereka. Aguila Saleh, yang telah memimpin selama 12 tahun, harus lengser setelah 170 anggota parlemen melakukan voting pada Selasa lalu. Posisinya kini digantikan oleh Al-Salhin Abdelnabi al-Obeidi.
Penggantian ini bukan tanpa alasan. Sehari sebelum voting, sebanyak 98 anggota parlemen menyetujui aturan baru yang membatasi masa jabatan ketua dan wakil ketua hanya untuk satu periode (12 bulan). Aturan ini secara efektif memangkas kekuasaan Saleh yang sudah terlalu lama bercokol.
Anggota parlemen, Jebree Oheida, mengungkapkan bahwa ada ketidakpuasan besar terhadap kepemimpinan lama. "Banyak keputusan diambil tanpa konsultasi dengan anggota," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters. Saleh sendiri menolak hasil voting ini dan mengklaim prosesnya ilegal, namun langkahnya sudah tidak bisa dibendung.
Pergantian ini terjadi di tengah situasi Libya yang masih terbelah antara pemerintah di Tripoli dan administrasi tandingan di timur yang didukung militer Khalifa Haftar. Analis menilai, lengsernya Saleh adalah sinyal melemahnya pengaruh klan Haftar, terutama karena anaknya, Saddam Haftar, sedang berusaha memusatkan kekuasaan. Al-Obeidi, yang berasal dari kota Tobruk, diharapkan bisa membawa angin segar menjelang pemilu yang direncanakan dalam dua tahun ke depan.