Jakarta - Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki sekaligus Utusan Khusus Presiden untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, menyatakan bahwa Washington perlu mengubah pendekatannya terhadap Timur Tengah. Jika sebelumnya AS cenderung ingin mengendalikan kawasan, kini mereka beralih ke posisi yang lebih suportif.
Dalam pernyataannya kepada Al Jazeera, Barrack menegaskan bahwa AS tidak lagi berambisi mendominasi Timur Tengah. Meski enggan menyebut perang di Iran sebagai sebuah kesalahan, ia mengakui bahwa ketidakstabilan yang timbul telah memicu konsekuensi yang tidak diinginkan.
Barrack menjelaskan bahwa Presiden Donald Trump sangat menentang apa yang disebutnya sebagai 'perang abadi'. Menurutnya, untuk mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran, diperlukan kompromi besar dari kedua belah pihak. Masing-masing pihak dipaksa menerima kondisi yang mungkin tidak mereka sukai.
Namun, ia menyoroti kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan yang bisa berujung pada salah perhitungan. Minimnya kepercayaan antara Washington dan Teheran dinilai menjadi penghambat utama dalam negosiasi kesepakatan.
Dalam wawancaranya, Barrack juga menyinggung soal kemandirian negara-negara kawasan. Ia menilai negara Timur Tengah tidak seharusnya bergantung penuh pada AS untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa pemerintahan Trump tidak meninggalkan kawasan tersebut, melainkan sedang meninjau ulang peran AS. Barrack mengakui bahwa intervensi dan upaya pergantian rezim yang dilakukan AS selama bertahun-tahun terbukti tidak berhasil. Kini, saatnya menurunkan senjata dan menyelesaikan sengketa melalui negosiasi serta saling menghormati.