Sebuah kasus mengejutkan datang dari Provinsi Gansu, China. Seorang pemilik taman kanak-kanak (TK) bernama Li Huifang divonis penjara seumur hidup setelah terbukti sengaja mencampurkan cat beracun ke dalam makanan murid-muridnya. Akibat perbuatannya, lebih dari 200 anak mengalami keracunan timbal (lead poisoning) yang parah.
Melansir dari laporan media pemerintah, insiden ini terungkap pada Juli 2025 silam. Saat itu, ratusan murid dan staf di Heshi Peixin Kindergarten mulai jatuh sakit. Hasil investigasi menunjukkan kadar timbal dalam darah mereka jauh di atas ambang normal. Fakta mengejutkan terungkap di persidangan: para koki di dapur TK tersebut diperintahkan menggunakan cat yang jelas-jelas berlabel 'tidak bisa dimakan' hanya untuk mempercantik tampilan makanan agar terlihat menarik bagi murid.
Pengadilan Menengah Lanzhou menjatuhkan hukuman berat tidak hanya kepada Li, tetapi juga kepada stafnya. Kepala sekolah, Zhi Jinglin, diganjar 15 tahun penjara, sementara empat karyawan dapur lainnya menerima hukuman 6 hingga 8 tahun. Otoritas menemukan sampel makanan mengandung timbal hingga 2.000 kali lipat dari batas aman nasional China. Kasus ini juga membongkar praktik korupsi, di mana sejumlah pejabat dan staf rumah sakit diduga menutupi insiden dengan memanipulasi hasil tes darah dan menerima suap.
Analisis Dampak: Kasus ini menyoroti celah pengawasan ketat terhadap rantai pasok makanan di institusi pendidikan. Bagi masyarakat, ini menjadi pengingat keras bahwa standar keamanan pangan, terutama untuk anak-anak, tidak boleh dikompromikan demi alasan estetika atau bisnis. Pemerintah China kini merespons dengan menerbitkan pedoman nasional baru yang mewajibkan setiap batch makanan diuji dan bahan baku utama dibeli hanya dari titik pengadaan terpusat.