Washington DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdana 'Board of Peace' di Washington DC. KTT ini diharapkan bisa menjadi panggung bagi Trump untuk menunjukkan kemajuan dan membungkam skeptisisme terhadap panel yang baru dibentuknya, terutama setelah berbulan-bulan terjadi pelanggaran gencatan senjata di Gaza.
Pertemuan yang berlangsung hari Kamis (waktu setempat) ini berjarak hampir tiga bulan setelah Dewan Keamanan PBB menyetujui rencana 'gencatan senjata' yang didukung AS, di tengah situasi yang banyak disebut sebagai genosida di Gaza. Panel ini dibentuk dengan mandat dua tahun untuk mengawasi rekonstruksi wilayah Palestina yang hancur dan meluncurkan Pasukan Stabilisasi Internasional.
Namun, sejak awal, pembentukan 'Board of Peace' sudah diselimuti kontroversi. Banyak sekutu Barat tradisional mengkhawatirkan ambisi besar administrasi AS yang dianggap ingin menyaingi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam format yang didominasi Trump. Bahkan, beberapa negara yang sudah bergabung sebagai anggota pun meragukan kemampuan panel ini untuk membawa perubahan signifikan di Gaza.
Ironisnya, Israel menjadi anggota tambahan belakangan pada awal Februari, sebuah langkah yang dianggap mengkhawatirkan oleh beberapa pihak. Lebih jauh lagi, hingga pertemuan ini digelar, tidak ada perwakilan dari Palestina sama sekali. Kondisi ini menjadi ganjalan utama yang dipandang banyak pengamat sebagai hambatan besar untuk menemukan jalan keluar yang langgeng.
Yousef Munayyer, kepala program Israel-Palestina di Arab Center Washington DC, mempertanyakan tujuan sebenarnya Trump dari pertemuan ini. Ia menduga, Trump hanya ingin menunjukkan adanya partisipasi dan bahwa orang-orang percaya pada proyek, visi, serta kemampuannya. Namun, Munayyer pesimis akan ada komitmen besar sampai pertanyaan politik kunci yang belum terselesaikan bisa dijawab tuntas.
Memang, saat ini 'Board of Peace' disebut sebagai 'satu-satunya pilihan' bagi pihak-pihak yang ingin memperbaiki kehidupan warga Palestina di Gaza. Tapi, terlalu kuatnya keterikatan panel ini dengan sosok Donald Trump secara pribadi memunculkan keraguan serius tentang keberlanjutannya, mengingat krisis di Gaza kemungkinan membutuhkan respons puluhan tahun. Pemain regional yang serius mengkhawatirkan masa depan kawasan berharap partisipasi mereka bisa memberi pengaruh dan arah bagi masa depan Gaza. Prioritas utama yang realistis seharusnya adalah fokus pada kebutuhan mendesak dan penanganannya secara agresif.