Toronto, Kanada – Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan di Kanada dan Amerika Serikat bagian utara kian mengkhawatirkan. Hingga pertengahan pekan ini, lebih dari 858 titik api aktif masih berkobar di Kanada, dengan hampir 200 di antaranya berada di Ontario. Di Minnesota, AS, 17 kebakaran besar masih belum terkendali, memaksa pemerintah setempat mengeluarkan status darurat untuk mempercepat pemadaman.
Dampaknya langsung terasa di kota-kota besar. Toronto, New York, Boston, hingga Detroit kini tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia versi IQAir. Warga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas fisik berat di luar ruangan karena partikel halus PM2.5 dan nitrogen dioksida dari asap bisa memicu peradangan paru-paru, memperparah penyakit jantung, ginjal, dan gangguan pernapasan.
Yang paling memprihatinkan, kebakaran ini menghantam permukiman komunitas adat First Nation di Ontario utara. Namaygoosisagagun First Nation mengalami kerusakan parah pada rumah dan gedung komunitas akibat api yang bergerak cepat. Enam komunitas lainnya terpaksa dievakuasi total. Para ahli menyebut fenomena 'heat dome'—kubah panas yang memerangkap udara gerah dan asap—sebagai biang keladi. Suhu ekstrem yang berkepanjangan membuat tanah dan tanaman kering, bertindak seperti bensin bagi api.
Analisis: Ini bukan sekadar bencana lingkungan musiman. Pola cuaca ekstrem yang memicu kebakaran hebat di awal musim panas ini menunjukkan krisis iklim semakin nyata. Dampak ekonominya juga besar: sektor pariwisata dan transportasi di kawasan terdampak lumpuh, sementara biaya kesehatan masyarakat melonjak drastis. Bagi Indonesia, ini pengingat betapa rentannya negara tropis dengan lahan gambut terhadap bencana serupa jika musim kemarau tiba.