Raksasa fashion online Shein kini menjadi sasaran utama penyelidikan serius oleh Komisi Eropa. Platform ini diduga kuat terlibat dalam penjualan barang-barang terlarang, termasuk boneka seks mirip anak dan senjata, serta dituding menerapkan 'desain yang memicu kecanduan' pada layanannya. Penyelidikan ini merupakan bagian dari upaya Uni Eropa untuk menertibkan platform digital, di tengah sorotan global terhadap penyebaran konten ilegal dan berbahaya di ranah maya.
Komisi Eropa secara resmi membuka penyelidikan terhadap Shein setelah muncul kegaduhan di Prancis pada November lalu. Saat itu, badan pengawas konsumen Prancis menemukan boneka seks dengan 'sifat pedofilik' yang dijual bebas di situs Shein. Temuan ini membuat Komisi Eropa menduga sistem Shein berpotensi menimbulkan 'risiko sistemik' bagi konsumen di seluruh Uni Eropa.
Tindakan tegas ini diambil di bawah payung Digital Services Act (DSA), undang-undang yang disahkan pada tahun 2022 untuk melindungi konsumen dan memerangi peredaran barang ilegal serta layanan berbahaya di Uni Eropa. Shein, yang didirikan di Tiongkok namun kini berbasis di Singapura, menyatakan akan kooperatif penuh dengan penyelidikan tersebut. Mereka menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan online yang aman dan terpercaya.
Sebelumnya, Komisi Eropa sudah tiga kali meminta informasi dari Shein mengenai keberadaan barang ilegal di platform dan sistem rekomendasinya. Permintaan terakhir, yang dilayangkan akhir November, secara khusus menanyakan detail penjualan boneka seks mirip anak dan senjata. Komisi juga meminta dokumen internal yang menjelaskan bagaimana Shein memastikan anak di bawah umur tidak terpapar konten tidak pantas dan bagaimana platform mencegah peredaran produk ilegal.
Penyelidikan terhadap Shein ini datang di tengah gelombang pengawasan ketat regulator dan pemerintah di Eropa, Amerika Serikat, hingga Asia Selatan terhadap platform-platform teknologi besar lainnya. Banyak yang dituduh menyebarkan materi pelecehan seksual anak yang dihasilkan AI dan konten kriminal lainnya. Sebagai contoh, bulan ini polisi Prancis menggerebek kantor X di Paris dan memanggil pemiliknya, Elon Musk, dalam penyelidikan dugaan algoritma bias, ekstraksi data palsu, dan gambar pornografi.
Di Spanyol, pemerintah juga telah memerintahkan jaksa untuk menyelidiki platform media sosial X, Meta, dan TikTok atas konten yang mengandung unsur seksual. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menegaskan, "Negara tidak bisa membiarkan ini. Impunitas para raksasa ini harus berakhir." Penyelidikan serupa di bawah DSA juga sedang berlangsung terhadap retailer online China seperti AliExpress, serta platform media sosial seperti Facebook, Instagram, X, dan TikTok. Ini menunjukkan komitmen kuat Eropa untuk menertibkan ruang digital dan melindungi pengguna dari berbagai bahaya yang mengintai.