SAO PAULO - Peta politik Brasil berubah drastis. Pemilihan Presiden (Pilpres) Brasil 2026 dipastikan berlanjut ke putaran kedua pada 25 Oktober mendatang setelah tidak ada kandidat yang meraih suara mayoritas mutlak. Hasil ini mengejutkan banyak pihak karena Senator Flavio Bolsonaro berhasil menyalip petahana Luiz Inacio Lula da Silva dalam perolehan suara sementara.
Berdasarkan data Pengadilan Pemilu Brasil, Flavio yang merupakan putra mantan Presiden Jair Bolsonaro memimpin dengan 55,8 juta suara, sementara Lula mengantongi sekitar 53,2 juta suara. Dengan hampir 99 persen suara yang masuk, Flavio mencatatkan sekitar 47 persen suara sah, unggul atas Lula yang berada di angka 44,9 persen.
Kemenangan moral di putaran pertama ini menjadi pukulan telak bagi Lula. Pria berusia 80 tahun yang mencalonkan diri untuk masa jabatan keempatnya itu harus berjuang keras mempertahankan kursinya. Di sisi lain, Flavio Bolsonaro, yang baru berusia 45 tahun, sedang berusaha mengembalikan kejayaan gerakan sayap kanan ayahnya, meskipun Jair Bolsonaro saat ini tengah menjalani hukuman 27 tahun penjara terkait kasus kudeta.
Analis politik menilai lonjakan suara Flavio terjadi berkat 'suara protes'. Banyak pemilih yang awalnya mendukung kandidat lain, seperti Ronaldo Caiado dan Renan Santos, akhirnya memilih Flavio karena melihat peluang besar untuk mengalahkan Lula. Situasi ini menempatkan pemilih dari 10 kandidat lainnya sebagai penentu utama di putaran kedua nanti.
Pilpres Brasil ini menjadi sorotan dunia karena terjadi di tengah ketegangan hubungan dengan Amerika Serikat dan gelombang pergeseran politik ke kanan di Amerika Latin. Masyarakat Brasil saat ini juga tengah bergulat dengan isu kriminalitas dan biaya hidup yang semakin mahal, menjadikan pemilu ini sebagai referendum terhadap kondisi ekonomi negara tersebut.