STRATEGI AS BURAM, PERUNDINGAN IRAN TERANCAM BUNTU? - Berita Dunia
← Kembali

STRATEGI AS BURAM, PERUNDINGAN IRAN TERANCAM BUNTU?

Foto Berita

Putaran perundingan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran di Muscat, Oman, diwarnai ketidakjelasan strategi Washington serta tuntutan 'maksimalis' dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Para analis menilai, AS kini merasa Iran berada di posisi lemah, sehingga ini adalah momen tepat untuk memaksa konsesi besar dari Teheran.

Tuntutan Washington tidak hanya menyasar program nuklir Iran, tetapi juga meluas ke pembatasan program rudal balistik mereka dan penghentian dukungan terhadap apa yang disebut 'proksi' regional. Pembicaraan ini berlangsung setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, dan di tengah gelombang protes anti-pemerintah yang mematikan di Iran. Tekanan juga datang dari sanksi ekonomi AS yang kian ketat dan pengerahan 'armada' militer multibiliar dolar AS di lepas pantai Iran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan tegas menyatakan bahwa agar perundingan ini bermakna, harus mencakup jangkauan rudal balistik, sponsor organisasi teror, dan perlakuan Iran terhadap rakyatnya sendiri. Sementara itu, Presiden Trump, meski sempat mengancam Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei agar 'sangat khawatir', juga mengindikasikan tujuan yang lebih sempit: 'tidak ada nuklir' dan 'berhenti membunuh demonstran'. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt tak ketinggalan mengingatkan Iran bahwa Presiden memiliki banyak opsi di luar diplomasi, sebagai panglima tertinggi militer terkuat di dunia.

Para pengamat geopolitik khawatir, tuntutan maksimalis dan inkonsistensi sinyal dari Washington bisa memperumit jalan perundingan. Ini berisiko tinggi membuat pembicaraan menemui jalan buntu, bahkan memicu eskalasi ketegangan yang lebih besar di kawasan. Stabilitas di Timur Tengah, yang sudah rentan, bisa semakin terancam, dengan potensi dampak signifikan terhadap harga minyak global dan keamanan internasional. Kondisi internal Iran yang bergejolak dengan protes juga menambah lapisan kompleksitas, di mana tekanan eksternal bisa memperparah situasi domestik atau justru memicu respons nasionalis dari rezim Teheran.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook