Konflik di Timur Tengah kembali memanas dan memasuki fase genting. Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini menginjak minggu keempat, menciptakan bayang-bayang kelam di tengah perayaan Idul Fitri dan Nowruz jutaan warga Iran. Lebih dari 1.400 nyawa dilaporkan melayang di Iran akibat eskalasi ini.
Iran tidak tinggal diam. Negara tersebut telah melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah pangkalan militer AS. Ancaman keras juga dilontarkan Iran kepada negara-negara Barat dan Teluk, bahkan menyerukan peringatan akan bahaya terhadap jalur pelayaran global serta infrastruktur energi dunia. Peringatan ini patut diwaspadai karena bisa memicu kenaikan harga minyak dan mengganggu rantai pasok global, yang pada akhirnya membebani ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, meski konflik terus meruncing, Amerika Serikat menyatakan sedang mempertimbangkan “penghentian” (winding down) konflik, namun secara tegas menolak gagasan gencatan senjata. Langkah ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana AS membayangkan akhir dari konflik tanpa menghentikan pertempuran sepenuhnya. Inggris juga turut berperan dengan mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya untuk melancarkan serangan terhadap situs rudal Iran. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya terbatas pada Iran dan sekutunya, melainkan juga melibatkan kekuatan besar global lainnya, berpotensi menyeret lebih banyak pihak ke dalam pusaran perang yang lebih besar. Analis khawatir eskalasi ini bisa memicu krisis kemanusiaan yang lebih parah dan mengganggu stabilitas regional yang sudah rapuh.