Persidangan kasus kematian legenda sepak bola Diego Maradona memasuki babak akhir. Jaksa menuntut hukuman 12 tahun penjara untuk Leopoldo Luque, dokter bedah saraf yang dianggap sebagai pengambil keputusan kunci bagi Maradona saat itu. Luque menjadi satu dari tujuh tenaga medis yang menjalani persidangan atas dugaan kelalaian yang menyebabkan kematian sang bintang pada November 2020.
Dalam pledoi penutupnya, tim kuasa hukum Luque dengan tegas membantah tuntutan tersebut. Pengacara Roberto Rallin menyebut kliennya tidak bersalah dan telah dijadikan 'kambing hitam' atas tragedi ini. Ia menolak argumen jaksa yang menyatakan kematian Maradona dapat diprediksi. Pengacara lainnya, Francisco Oneto, menegaskan bahwa kematian Maradona murni akibat serangan jantung akut yang tidak terduga.
Maradona meninggal dunia di usia 60 tahun karena krisis kardiorespirasi disertai edema paru. Ia ditemukan meninggal di tempat tidurnya di sebuah hunian di Tigre, utara Buenos Aires, yang disewa untuk masa pemulihan pasca operasi hematoma subdural. Kematian 'putra kesayangan' Argentina ini sempat membuat negara tersebut berkabung besar-besaran di tengah pandemi COVID-19, dengan puluhan ribu orang nekat melanggar aturan jaga jarak untuk memberikan penghormatan terakhir di istana presiden.
Jaksa penuntut dalam argumen penutupnya mengecam 'kelambanan' Luque, yang menurut mereka selalu bersikap 'tidak melakukan apa-apa' saat melihat tanda-tanda peringatan yang ditunjukkan Maradona. Namun, pihak pembela menyerang balik kesimpulan komisi medis interdisipliner yang dibentuk pengadilan pada 2021. Komisi tersebut menyatakan Maradona memiliki riwayat masalah jantung yang seharusnya diperhitungkan. Sebaliknya, pengacara Luque bersikeras bahwa tes klinis sebelum operasi tidak menunjukkan masalah jantung apa pun pada tahun 2020.
Sepanjang persidangan, Luque menjadi terdakwa yang paling agresif. Ia beberapa kali berbicara saat merasa dirinya tersudutkan. Tim hukumnya bahkan memutar rekaman audio, artikel ilmiah, hingga video otopsi Maradona, yang memicu kemarahan putri-putri sang legenda. 'Mudah menyerang saya karena saya yang paling banyak berinteraksi dengan Maradona,' ujar Luque di pengadilan.
Analisis Dampak: Kasus ini menjadi sorotan global karena menyangkut ikon sepak bola dunia. Bagi masyarakat Argentina, persidangan ini bukan sekadar proses hukum, melainkan upaya mencari keadilan atas kematian tragis pahlawan nasional mereka. Publik menuntut transparansi penuh dari sistem peradilan dan tenaga medis yang bertanggung jawab. Di sisi lain, kasus ini juga menyoroti pentingnya protokol medis yang ketat bagi pasien publik figur, serta mempertanyakan etika tim medis dalam menangani pasien dengan riwayat kesehatan kompleks. Putusan pengadilan nantinya akan menjadi preseden penting bagi akuntabilitas tenaga kesehatan di Argentina.