Pengadilan di Inggris mengungkap skandal mengejutkan: seorang remaja Norwegia berusia 19 tahun, Johannes Natland, ditangkap di sebuah hotel di Huddersfield pada 19 Maret 2025, dengan membawa dua pucuk senjata api dan 12 butir peluru. Ia diduga menjadi 'tukang tembak bayaran' untuk sebuah jaringan kriminal Swedia yang terkait dengan rezim Iran.
Jaksa penuntut, Alistair Richardson, menyatakan Natland direkrut oleh jaringan bernama 'Foxtrot'. Ia dijanjikan bayaran untuk 'melakukan eksekusi' di Inggris. Natland bahkan sudah mengambil senjata dari tempat persembunyian di kawasan hutan West Yorkshire. Ia mengaku bersalah memiliki senjata api ilegal, namun membantah tuduhan konspirasi pembunuhan.
Fakta yang lebih mencegangkan: komunikasi grup itu menggunakan nama samaran 'Agent 47' dan 'Generalen'. Mereka membahas target pembunuhan dengan santai, bahkan menawarkan hadiah €25.000 (sekitar Rp440 juta) untuk 'tukang tembak' yang bersedia. Sang remaja nekat berangkat meski tahu rekannya sudah ditangkap. Ia bahkan mengirim pesan ke pacarnya bahwa ia akan 'menjalani misi gila'.
Analisis: Kasus ini membuka mata betapa mudahnya jaringan kriminal internasional merekrut anak muda melalui media sosial dan game online. Bayaran besar dan janji petualangan menjadi umpan ampuh. Ini juga menunjukkan bagaimana Iran diduga menggunakan kelompok kriminal di Eropa untuk operasi 'bayangan' di luar negeri, mirip modus operandi yang sebelumnya terungkap di Swedia dan Denmark.