Menteri Pertahanan dari lima negara besar Eropa—Prancis, Jerman, Italia, Polandia, dan Inggris—berkumpul di Paris pada Senin (waktu setempat) untuk membahas peningkatan bantuan militer bagi Ukraina. Pertemuan ini digelar di tengah eskalasi serangan yang kian memanas antara Rusia dan Ukraina yang telah memasuki tahun keempat.
Di lapangan, situasi masih brutal. Serangan Rusia di Kota Zaporizhzhia melukai empat warga sipil pada Senin pagi. Sementara itu, serangan drone Ukraina ke wilayah Voronezh, Rusia, menewaskan dua orang dan melukai 17 lainnya. Gubernur Voronezh, Alexander Gusev, mengungkapkan bahwa sebagian besar korban luka adalah penumpang kereta komuter yang terkena serpihan drone. Serangan ini juga memicu kebakaran di sejumlah fasilitas industri dan bangunan residensial.
Rusia tidak tinggal diam. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menghantam pembangkit listrik di Kharkiv—kota terbesar kedua Ukraina—serta gudang dan infrastruktur pelabuhan di Chornomorsk. Di sisi lain, Ukraina melaporkan dua warga terluka akibat serangan di wilayah Chernihiv.
Di tengah panasnya medan tempur, jalur diplomasi masih dibuka. Negosiator dari Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat dijadwalkan bertemu di Abu Dhabi pada awal November mendatang. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, juga memberikan syarat tegas: jika Rusia ingin serangan ke kilang minyak dihentikan, Moskow harus berhenti menghancurkan infrastruktur energi Ukraina. Ia bahkan meminta AS mengizinkan penggunaan sistem Starshield untuk mendeteksi peluncuran rudal Rusia jika serangan terus berlanjut.
Analisis Dampak: Pertemuan di Paris ini menjadi sinyal krusial bagi stabilitas keamanan Eropa. Jika kelima negara ini sepakat meningkatkan pasokan senjata, hal itu bisa memperpanjang konflik atau justru menjadi alat tekanan agar Rusia mau bernegosiasi. Bagi masyarakat global, eskalasi serangan ke infrastruktur energi berpotensi memicu lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok pangan, mengingat Ukraina dan Rusia adalah eksportir utama komoditas dunia.