Pandangan mengejutkan datang dari Jennifer Gavito, mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Menurutnya, potensi serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran justru bisa menjadi sinyal 'akhir perang' atau setidaknya fase penentu dalam konflik berkepanjangan tersebut.
Argumen Gavito ini tentu memantik pertanyaan besar, mengingat serangan militer kerap diasosiasikan dengan eskalasi konflik. Namun, dalam konteks geopolitik yang kompleks antara Washington dan Teheran, Gavito mungkin melihat langkah drastis ini sebagai upaya terakhir untuk memaksa Iran mengubah kebijakannya atau menghentikan program nuklirnya secara definitif, yang pada akhirnya diharapkan dapat meredakan ketegangan jangka panjang.
Selama bertahun-tahun, program nuklir Iran telah menjadi sumber kekhawatiran global, terutama terkait potensi pengembangannya untuk tujuan militer. Kecurigaan ini memicu sanksi ekonomi berat dari AS dan negara Barat lainnya, serta negosiasi yang sering kali menemui jalan buntu. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sendiri terus memantau aktivitas nuklir Iran, meski aksesnya sering dibatasi.
Jika benar-benar terjadi, serangan semacam itu tentu akan membawa dampak multidimensional yang sangat besar bagi masyarakat internasional. Bukan hanya risiko balasan langsung dari Iran yang bisa memicu konflik regional lebih luas di Timur Tengah, tetapi juga goncangan pasar minyak global, krisis pengungsi, hingga destabilisasi politik di banyak negara. Para analis lain justru lebih banyak memprediksi eskalasi, bukan perdamaian, pasca-serangan militer.
Dengan demikian, pandangan Gavito, meskipun kontroversial, menawarkan perspektif yang berbeda di tengah rumitnya dinamika hubungan AS-Iran. Ini adalah pengingat betapa gentingnya situasi ini dan betapa besarnya pertaruhan bagi perdamaian dunia.