Konflik di Timur Tengah memanas! Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, dengan tujuan utama mengganti rezim yang berkuasa di sana. Serangan ini memicu respons cepat dan tak terduga dari Iran, meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Serangan yang terjadi "tadi pagi" ini menargetkan berbagai lokasi di seluruh Iran, mulai dari instalasi militer hingga pimpinan sipil. Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi ini bukan sekadar tekanan militer untuk mencapai kesepakatan, melainkan untuk menggulingkan pemerintah Iran. Ironisnya, serangan ini diluncurkan tak lama setelah ada pengumuman "terobosan signifikan" dalam negosiasi damai, mengindikasikan bahwa diplomasi hanya dijadikan tameng untuk menutupi rencana perang yang sudah matang.
Media Israel melaporkan bahwa operasi militer ini telah dikoordinasikan dengan Washington jauh sebelumnya, bahkan disiapkan menjelang liburan Purim. Mereka mengklaim telah mencapai "kesuksesan sangat tinggi" dalam melumpuhkan kepemimpinan Iran, bahkan menyebut nama-nama penting seperti Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian sebagai target utama. Foto-foto serangan di kompleks Khamenei juga telah beredar. Laporan juga menyebut kematian Jenderal Mohammad Pakpour dari Garda Revolusi, penasihat pemimpin tertinggi Ali Shamkhani, dan Menteri Pertahanan Amir Nasirzadeh. Klaim ini tentu bertujuan meyakinkan warga Israel akan kemampuan mereka menjangkau lapisan teratas kepemimpinan Iran.
Namun, Teheran segera membantah klaim tersebut. Media Iran melaporkan bahwa Khamenei dan Pezeshkian dalam kondisi aman, justru memberitakan serangan udara Israel yang menghantam sebuah sekolah perempuan di kota Minab, menewaskan sedikitnya 80 orang.
Berbeda dengan konflik sebelumnya, respons Iran kali ini sangat cepat dan agresif. Rudal balistik ditembakkan hampir secara instan ke pangkalan-pangkalan militer AS di Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, serta kota-kota besar Israel seperti Haifa, Tel Aviv, dan Eilat. Kecepatan balasan ini menunjukkan bahwa Iran sudah mengantisipasi serangan dan memiliki rencana respons yang siap sedia.
Situasi ini menempatkan Presiden Trump dalam posisi dilematis, mengingat minimnya dukungan publik AS untuk terlibat dalam konflik asing baru. Survei YouGov dan The Economist bahkan menunjukkan hanya 27 persen warga AS yang antusias dengan perang ini. Pertanyaan krusial kini adalah apakah Iran mampu bertahan menghadapi tekanan AS, baik dari dalam maupun luar negeri, dan sejauh mana konflik ini akan meluas, mengingat klaim kematian para pemimpin Iran yang belum terkonfirmasi dapat memicu spiral kekerasan yang tak terkendali di seluruh kawasan.