Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus dugaan kekerasan seksual di Cornell University kembali menyorot tajam dunia pendidikan tinggi Amerika Serikat. Seorang mahasiswi tahun ketiga yang dikenal sebagai Jane Doe melaporkan telah menjadi korban pemerkosaan oleh tujuh pria saat dirinya dalam kondisi tidak berdaya di sebuah rumah fraternity pada 2024 silam.
Alih-alih mendapatkan keadilan, proses investigasi internal kampus yang berlarut-larut justru berujung antiklimaks. Tidak ada tuntutan pidana yang diajukan terhadap para terlapor. Jane Doe akhirnya memilih angkat kaki dan berhenti kuliah karena merasa tidak aman serta suaranya tidak didengar. Kini, ia menggugat Cornell atas penanganan kasusnya yang dinilai gagal.
Yang lebih mengejutkan, tidak satu pun administrator yang terlibat dalam proses tersebut disebutkan namanya. Mereka seolah kebal dari pertanggungjawaban. Kasus ini membuka tabir gelap birokrasi kampus yang diduga kuat lebih mengutamakan reputasi institusi ketimbang melindungi mahasiswa. Prosedur rahasia dirancang untuk membuat 'masalah' hilang, bukan untuk menegakkan keadilan.
Data juga memperkuat dugaan ini. Survei Cornell 2025 menemukan 35 persen mahasiswi mengalami kontak seksual non-konsensual sejak mendaftar. Sementara itu, studi Departemen Kehakiman AS mencatat kurang dari 5 persen kasus pemerkosaan yang dilaporkan ke polisi. Para korban seringkali dipaksa menceritakan ulang detail traumatis kepada berbagai pihak, sebuah proses yang justru memperparah luka batin mereka.