Di tengah konflik Rusia-Ukraina yang kini telah melampaui hari ke-1.400, sebuah sinyal perdamaian mulai muncul, namun dibayangi ketegangan di antara para sekutu. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa tim negosiatornya sedang dalam perjalanan menuju Uni Emirat Arab. Agenda utamanya adalah bertemu dengan tim perunding dari Rusia dan Amerika Serikat, sebuah langkah yang diinisiasi setelah gelaran Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.
Kabar ini datang tak lama setelah Presiden Rusia Vladimir Putin diketahui telah bertemu dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, Jared Kushner, dan Josh Gruenbaum, pada Kamis malam lalu di Kremlin. Pembahasan mereka berfokus pada rencana konkret untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung hampir empat tahun ini. Bahkan, mantan Presiden AS Donald Trump, yang sempat bertemu Zelenskyy di sela-sela WEF, turut mengklaim bahwa baik Putin maupun Zelenskyy memiliki keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan damai.
Meski ada optimisme, upaya perdamaian ini diwarnai kerikil tajam di barisan sekutu Barat. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara tegas menyuarakan kekhawatirannya atas usulan Trump untuk menempatkan Putin dalam 'Dewan Perdamaian' yang ia gagas, mengingat Rusia masih terus menggempur Ukraina. Lebih jauh, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengungkapkan bahwa hubungan AS-Uni Eropa 'mendapat pukulan telak' dalam seminggu terakhir. Menurutnya, ketidaksepakatan di antara sekutu justru akan menguntungkan musuh yang selama ini mengamati.
Situasi ini menghadirkan pertanyaan besar: Akankah upaya perundingan di UEA benar-benar mampu membawa kedamaian yang diharapkan? Atau justru keretakan di antara sekutu Barat akan memperumit jalan menuju perdamaian, melemahkan posisi Ukraina, dan memperpanjang penderitaan warga sipil di tengah ancaman geopolitik yang kian tak menentu?