FBI baru saja menangkap seorang engineer asal Arab Saudi, Abdulrahman Alfozan, karena dituduh menyelipkan alat perekam rahasia di ruang rapat eksekutif kantor OpenAI di San Francisco. Alat itu katanya disembunyikan di dalam tisu toilet dan ditempel di belakang monitor TV. Pemerintah AS langsung mengaitkan kasus ini dengan isu keamanan nasional dan persaingan kecerdasan buatan global.
Namun, ada sisi ironis yang mencuri perhatian publik. Di saat yang hampir bersamaan, OpenAI justru sedang digugat oleh sejumlah media besar seperti USA Today dan New York Times. Mereka menuduh OpenAI mencuri karya jurnalistik untuk melatih ChatGPT. Kritikus menilai, perusahaan yang dibangun dari 'karya orang lain' ini kini berteriak keras saat merasa dicurangi.
Dampaknya bagi masyarakat, kasus ini membuka mata kita bahwa teknologi AI tidak hanya soal inovasi, tapi juga soal etika dan hukum. Masyarakat perlu lebih kritis terhadap bagaimana data dan karya mereka digunakan oleh perusahaan teknologi raksasa. Selain itu, insiden ini menunjukkan bahwa batas antara keamanan perusahaan dan keamanan negara semakin kabur di era AI.