Pakistan menghadapi ujian berat di kancah Piala Dunia T20 2026. Belum juga melakoni laga perdana kontra Belanda, tim sudah harus berjuang ekstra keras. Penyebabnya tak lain adalah keputusan kontroversial memboikot pertandingan fase grup melawan rival abadi, India.
Akibat boikot ini, Pakistan dijatuhi sanksi pengurangan dua poin sekaligus pukulan telak pada rasio lari bersih (net run rate) mereka. Kondisi ini membuat margin kesalahan tim nyaris nihil. Jangankan kekalahan, satu pertandingan yang batal karena cuaca buruk saja bisa langsung mempersulit langkah Pakistan ke babak selanjutnya.
"Kami harus sangat berhati-hati dan mengeluarkan performa terbaik," tegas Kapten Salman Ali Agha kepada awak media Jumat lalu. Agha mengakui, pengetahuan timnya tentang Belanda sangat minim, bahkan "tidak mengenal banyak" pemain lawan.
Sebagai strategi awal, Pakistan berencana "mengeluarkan semua opsi spin" mereka, meyakini lawan rentan terhadap bola-bola berputar berkualitas. Harapan besar juga disematkan pada duet pembuka eksplosif, Fakhar Zaman dan Saim Ayub, dengan Agha mengisi posisi ketiga. Sementara itu, mantan kapten Babar Azam, yang sempat kesulitan menemukan performa terbaik, akan bermain di urutan keempat.
"Babar bekerja keras memperbaiki permainannya. Dia pemain kunci dalam kondisi ini dan bisa mengubah jalannya pertandingan hanya dalam beberapa over. Kami sangat bergantung padanya," imbuh Agha.
Meskipun demikian, Pakistan datang dengan modal positif setelah menyapu bersih Australia 3-0 di kandang. Mereka akan memulai kampanye di Sri Lanka pada Sabtu ini menghadapi Belanda, sebelum bertanding melawan Namibia dan Amerika Serikat.
Namun, nuansa politik masih membayangi. Turnamen ini sebelumnya diwarnai ketegangan diplomatik dengan penggantian Bangladesh oleh Skotlandia. Bahkan, tuan rumah bersama Sri Lanka sempat mendesak Pakistan untuk meninjau ulang boikot terhadap laga India yang seharusnya digelar di Kolombo pada 15 Februari. Yang terpenting, jika Pakistan berhasil melaju ke fase gugur dan kembali bertemu India, mereka menegaskan akan mencari nasihat dari pemerintah terlebih dahulu. Ini menunjukkan betapa dalamnya isu politik yang memengaruhi olahraga di level tertinggi antara kedua negara.