LEBIH DARI SEKADAR SARANG GENG, INI WAJAH ASLI LYARI PAKISTAN - Berita Dunia
← Kembali

LEBIH DARI SEKADAR SARANG GENG, INI WAJAH ASLI LYARI PAKISTAN

Foto Berita

Karachi, Pakistan – Kawasan Lyari di Karachi, Pakistan, sering digambarkan film Bollywood sebagai sarang geng dan kekerasan. Namun, di balik stereotip itu, Lyari menyimpan wajah lain yang jauh lebih kompleks: pusat kuliner, kawah candradimuka musik rap, dan bahkan dijuluki 'Mini Brazil' karena gairah sepak bolanya.

Lewat program latihan tinju gratis, seorang pelatih bernama Younus Qambrani, 60 tahun, tanpa lelah mengajarkan anak-anak perempuan setempat cara membela diri. Di tengah hiruk-pikuk gang sempit yang dipenuhi kios kebab dan suara motor, suara pukulan sarung tinju di lantai beton klubnya justru menjadi simbol perlawanan terhadap stereotip gender.

Lyari dihuni sekitar 950.000 jiwa, setara dengan populasi Amsterdam, tapi hanya dalam tiga persen luas wilayah kota Belanda itu. Wilayah ini sempat menjadi zona konflik bersenjata saat perang geng pada pertengahan 2000-an hingga awal 2010-an. Operasi militer besar-besaran pada 2012 berhasil membubarkan kelompok bersenjata, namun luka sosial masih membekas.

Kini, Lyari menjelma jadi laboratorium budaya. Grup hip-hop seperti Lyari Underground dan rapper bertopeng Eva B lahir dari gang-gang sempit ini. Bollywood memang meraup ratusan juta dolar dari film laga yang mengambil latar Lyari, tapi warga setempat ingin dunia tahu: mereka bukan sekadar latar kekerasan, melainkan komunitas dengan sejarah dan semangat yang tak terkalahkan.

Analisis: Kisah Lyari menjadi pengingat bahwa pemberitaan internasional sering kali bias dan dangkal. Media Barat dan India cenderung hanya menyorot aspek kriminalitas, sementara transformasi sosial melalui olahraga dan seni nyaris tak tersentuh. Ini relevan bagi Indonesia yang juga kerap mengalami stigmatisasi wilayah tertentu, seperti kawasan padat di Jakarta atau daerah konflik di Papua. Pelajaran dari Lyari: pemberdayaan komunitas lewat jalur non-formal seperti tinju dan musik bisa menjadi alat diplomasi budaya yang efektif.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook