India memulai hajat besar, sensus penduduk raksasa yang sudah tertunda lima tahun. Kali ini istimewa, karena untuk pertama kalinya dalam hampir satu abad, sensus akan menyertakan penghitungan kasta. Langkah ini dipastikan bakal menjadi sorotan tajam, baik di dalam maupun luar negeri.
Proyek ambisius senilai 1,24 miliar dolar AS ini melibatkan lebih dari tiga juta petugas sensus. Mereka akan berkeliling ke 28 negara bagian dan delapan wilayah persatuan, mendatangi sekitar 1,4 miliar warga India untuk menanyakan komposisi rumah tangga, kondisi tempat tinggal, hingga akses pada fasilitas dasar. Ini adalah sensus kedelapan India sejak merdeka tahun 1947.
Penundaan sensus yang seharusnya digelar pada 2021 lalu akibat pandemi COVID-19, membuat data penting India seperti demografi, kondisi perumahan, dan fasilitas kesejahteraan menjadi usang. Oleh karena itu, data baru ini sangat krusial untuk perencanaan kebijakan ke depan.
Yang menarik, sensus kali ini akan sepenuhnya dilakukan secara digital. Petugas akan menggunakan aplikasi di ponsel pintar untuk mengumpulkan data dari 33 pertanyaan. Warga juga diberi pilihan untuk mengisi data sendiri melalui portal online.
Proses sensus terbagi dua fase. Fase pertama, yang disebut 'House Listing and Housing Census', sudah dimulai dan akan berlangsung hingga September. Di fase ini, pertanyaan seputar jumlah penghuni rumah, kepemilikan rumah, dan akses fasilitas seperti bahan bakar, air, listrik, internet, dan transportasi akan diajukan.
Fase kedua, yakni 'Population Enumeration', dijadwalkan pada Februari tahun depan dan akan berfokus pada detail sosio-ekonomi, pendidikan, migrasi, hingga tingkat kesuburan. Nah, di fase inilah penghitungan kasta akan dilakukan. Seluruh proses sensus dijadwalkan rampung pada 31 Maret tahun depan.
Lantas, mengapa sensus kasta ini begitu penting?
Sejak kemerdekaan, sensus kasta memang jarang dilakukan karena sensitivitas politik dan potensi memicu perpecahan. Namun, bagi banyak pihak, data kasta yang akurat sangat penting untuk merumuskan kebijakan afirmatif atau program kesejahteraan yang lebih tepat sasaran bagi kelompok-kelompok yang selama ini termarjinalkan. Tanpa data ini, sulit mengetahui seberapa jauh ketidaksetaraan berbasis kasta masih memengaruhi kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa sensus kasta bisa saja memperuncing identitas berbasis kasta, yang berpotensi memicu ketegangan sosial. Kendati demikian, para ahli percaya bahwa data demografi lengkap, termasuk kasta, akan membantu India memahami lebih dalam struktur masyarakatnya dan mengarahkan pembangunan yang lebih inklusif.