Konflik yang memanas antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran di Timur Tengah ternyata membawa berkah tak terduga bagi Rusia. Di tengah gejolak geopolitik ini, harga minyak mentah Ural Rusia melambung tinggi, memicu keuntungan fantastis bagi Moskow sekaligus mengocok ulang pasar energi global.
Analisis terbaru menunjukkan, minyak Rusia muncul sebagai salah satu penerima manfaat utama dari perang yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran. Pemicunya, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk sementara melonggarkan sanksi terkait minyak Rusia bagi 'beberapa negara'. Kebijakan ini diambil setelah Trump berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 10 Maret, sebagai upaya meredakan kelangkaan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut vital yang selama masa damai mengalirkan 20 persen pasokan minyak dan gas dunia dari negara-negara produsen di Teluk. Akibat penutupan ini, sekitar 20 juta barel minyak Teluk per hari 'terkunci', menciptakan kekosongan pasokan besar-besaran di pasar global.
Lonjakan harga langsung terasa. Harga rata-rata minyak Ural Rusia, yang menjadi patokan, kini berkisar $90 per barel, jauh di atas harga pra-perang yang kurang dari $60. Harga patokan internasional, Brent crude, juga melonjak di atas $100 per barel dari sekitar $65 sebelum perang, bahkan analis memprediksi angka $200 per barel bukan lagi hal yang mustahil.
Dari data Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), Rusia meraup tambahan pendapatan sebesar 672 juta Euro (sekitar $777 juta) hanya dalam dua minggu pertama perang Iran, yang dimulai 28 Februari dengan serangan Israel dan AS ke Teheran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat senior Iran lainnya. Setelah itu, Iran membalas dengan ribuan rudal dan drone ke Israel serta fasilitas militer AS di negara-negara Teluk.
Konflik ini makin memanas ketika Israel membom ladang gas South Pars Iran yang krusial, dibalas Iran dengan serangan ke aset energi Teluk, termasuk fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar, yang terbesar di dunia. Situasi ini membuat negara-negara berebut mencari kapal tanker, bahkan beberapa kapal pengangkut minyak Rusia yang awalnya menuju Tiongkok dilaporkan mengalihkan rute ke India.
Pelonggaran sanksi AS dan kekosongan pasokan ini memberikan 'jendela kritis' bagi Moskow untuk memaksimalkan volume ekspor dan pendapatan minyaknya. Rusia kini berperan sebagai penyuplai utama cadangan darurat global, khususnya untuk minyak mentah jenis medium-sour yang sangat dibutuhkan kilang minyak dunia.
Dampaknya bagi masyarakat? Kenaikan harga minyak global ini berpotensi memicu inflasi, membuat harga bahan bakar dan transportasi melonjak. Konsumen di seluruh dunia kemungkinan besar akan merasakan dampak langsung pada harga barang kebutuhan sehari-hari, mengancam daya beli dan stabilitas ekonomi global.