PAKISTAN "NIKAHKAN" GLETSR! JAGA AIR DARI ANCAMAN IKLIM - Berita Dunia
← Kembali

PAKISTAN "NIKAHKAN" GLETSR! JAGA AIR DARI ANCAMAN IKLIM

Foto Berita

Warga pegunungan Himalaya di Pakistan punya cara unik mengatasi krisis air di tengah ancaman pemanasan global yang bikin gletser alami mencair. Mereka kembali ke teknik kuno bernama "glacier grafting" atau yang mereka sebut "pernikahan gletser", sebuah metode cerdas untuk menciptakan gletser buatan demi menjaga pasokan air.

Metode ini terbilang sederhana namun efektif: relawan mengumpulkan bongkahan es 'jantan' dan 'betina' dari gletser yang masih ada, lalu 'menanamnya' di lokasi dataran tinggi yang strategis. Es yang dikumpulkan ini kemudian dicampur dengan bahan seperti batu bara, rumput, garam, dan air dari tujuh sumber berbeda, dipercaya mampu menciptakan gletser buatan yang lebih tahan lama. Secara historis, praktik ini bukan hal baru; catatan sejarah menyebutkan teknik serupa sudah ada sejak abad ke-14, bermula dari upaya seorang sufi untuk menghalangi penyerang di desa Giyari.

Pakistan, yang menjadi rumah bagi sekitar 13.000 gletser, masuk dalam daftar 10 negara paling rentan perubahan iklim, padahal kontribusi emisinya kurang dari 1 persen secara global. Melelehnya gletser alami akibat suhu ekstrem ini menjadi ancaman serius bagi pasokan air minum dan pertanian. Tak hanya di Pakistan, inovasi serupa juga dikembangkan di Ladakh, India, dengan teknik 'ice stupa' berbentuk kerucut, yang dirancang agar es bertahan lebih lama dengan menyemprotkan air di suhu beku.

Inisiatif lokal ini menunjukkan kearifan adaptasi yang luar biasa dari masyarakat pegunungan. Di saat dunia sibuk mencari solusi global, mereka justru kembali ke akar tradisi yang terbukti efektif. Ini bukan cuma soal bertahan hidup, tapi juga menjaga keberlanjutan pertanian dan pasokan air. Teknik 'pernikahan gletser' jadi pengingat penting: krisis iklim butuh solusi global, tapi adaptasi lokal yang cerdas tak kalah krusial. Kisah ini juga menyoroti bagaimana negara-negara dengan kontribusi emisi rendah justru paling merasakan dampak buruknya, memaksa mereka menciptakan terobosan demi kelangsungan hidup di tengah tantangan iklim yang makin berat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook