Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mencuri perhatian publik dengan klaimnya yang sensasional. Dalam pertemuan perdana 'Board of Peace' pada tahun 2025, Trump melontarkan pujian setinggi langit untuk bomber strategis B-2 Spirit yang, menurutnya, telah 'memusnahkan total potensi nuklir Iran' pada musim panas tahun lalu. Lebih jauh, ia menyebut aksi itu sebagai kunci terciptanya kedamaian di Timur Tengah, sebuah kondisi yang dikatakannya belum pernah terjadi selama 3.000 tahun terakhir.
Pernyataan ini sontak memicu beragam respons dan pertanyaan besar di kancah global. Trump, yang dikenal dengan retorikanya yang berani, menggambarkan bomber B-2 sebagai pesawat yang 'luar biasa' dalam pidatonya yang penuh semangat. Menurutnya, serangan yang dilakukan B-2 tersebut telah berhasil mengeliminasi ancaman nuklir dari Iran, sehingga membuka jalan bagi era baru stabilitas dan perdamaian di wilayah yang sering bergejolak itu.
Namun, klaim bahwa potensi nuklir Iran 'benar-benar musnah' dan bahwa Timur Tengah kini menikmati 'kedamaian untuk pertama kalinya dalam 3.000 tahun' adalah pernyataan yang sangat bombastis dan membutuhkan verifikasi independen. Selama ini, laporan dari berbagai lembaga intelijen dan media internasional belum mengonfirmasi adanya serangan masif yang bisa melumpuhkan seluruh program nuklir Iran secara total, apalagi menciptakan kedamaian abadi di seluruh kawasan. Sebaliknya, wilayah Timur Tengah justru kerap dilanda ketegangan politik dan konflik yang terus berlanjut hingga saat ini.
Pernyataan Trump ini kemungkinan besar merupakan bagian dari upaya membangun narasi politiknya, terutama menjelang potensi kontestasi politik di masa mendatang. Media dan pengamat geopolitik di seluruh dunia tentu akan memantau ketat apakah ada bukti konkret yang mendukung klaim radikal ini, ataukah ini lebih merupakan retorika khas Trump yang seringkali dilebih-lebihkan untuk tujuan tertentu. Dampak dari serangan bomber B-2 terhadap Iran, jika memang terjadi dan seefektif yang diklaim Trump, tentu akan menjadi peristiwa geopolitik monumental yang mengubah peta kekuatan regional secara drastis, serta memicu respons keras dari berbagai pihak, bukan sekadar kedamaian instan.