Ukraina, yang tadinya dikenal sebagai negara penerima bantuan militer, kini bertransformasi menjadi eksportir keahlian perang drone. Presiden Volodymyr Zelenskyy bahkan menawarkan solusi canggih dan hemat biaya kepada negara-negara Teluk serta Inggris untuk menghadapi ancaman drone canggih buatan Iran.
Kiprah Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia telah mengasah kemampuannya, terutama dalam menangkis serangan drone. Tahun ini saja, Ukraina berhasil merebut kembali sekitar 400 kilometer persegi wilayah dan mencetak rekor penembakan drone Rusia. Kementerian Pertahanan Ukraina melaporkan bahwa bulan lalu, mereka menembak jatuh 3.238 drone jenis Shahed, yang merupakan rekor baru, dari total lebih dari 15.000 drone Rusia yang dilumpuhkan. Tingkat keberhasilan mereka kini mencapai hampir 90 persen dan terus diupayakan hingga 95 persen.
Keahlian inilah yang kini dijual ke sekutunya. Lebih dari 200 ahli telah dikirim ke negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait. Zelenskyy juga siap mengirim puluhan ahli tambahan dan bahkan menawarkan perlindungan untuk pangkalan militer Inggris di Siprus yang sebelumnya diserang drone Shahed pada 2 Maret lalu.
Mengapa keahlian ini begitu diminati? Alasannya sederhana: efektivitas dan efisiensi biaya. Pakar rudal Fabian Hoffmann dari Oslo University menjelaskan bahwa sekutu AS di Teluk selama ini rentan terhadap drone Iran karena sistem pertahanan mereka fokus pada rudal balistik ketinggian tinggi, mengabaikan ancaman drone di ketinggian rendah. Lebih jauh, menembak jatuh drone Shahed senilai $50.000 dengan pencegat balistik AS bisa menelan biaya hingga $10 juta per tembakan. Bandingkan dengan pencegat drone buatan Ukraina yang hanya sekitar $3.000 per unit.
Zelenskyy mengklaim Ukraina mampu memproduksi setidaknya 2.000 unit pencegat efektif setiap hari dan dapat memasok 1.000 unit per hari kepada sekutunya. Ini bukan hanya tentang pertahanan, tapi juga serangan. Mantan Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, mengungkap bahwa serangan udara Ukraina terhadap infrastruktur Rusia meningkat empat kali lipat menjadi 23.000 serangan tahun lalu. Ukraina memang sengaja menargetkan fasilitas energi dan pabrik pertahanan Rusia, sambil terus mengembangkan drone jarak jauh mereka sendiri sebagai alternatif bantuan Barat yang terbatas.
Langkah Ukraina ini bukan sekadar upaya mencari keuntungan, melainkan respons strategis terhadap kolaborasi militer antara Rusia dan Iran yang dianggapnya sebagai ancaman nyata. Dengan menjadi penyedia solusi pertahanan drone, Ukraina tak hanya memperkuat posisinya di mata dunia, tetapi juga membuka potensi besar pasar global untuk teknologi militer yang terbukti di medan perang.