Harry Kane memasuki persaingan Ballon d'Or 2026 dengan modal luar biasa. Penyerang Bayern Munich itu mencetak 36 gol di Bundesliga musim lalu, menjadikannya top skor liga untuk ketiga kalinya berturut-turut dan meraih Sepatu Emas Eropa kedua. Yang menarik, Kane justru tampil tajam di usia 33 tahun—fase di mana kebanyakan striker mulai menurun.
Total 73 gol di semua kompetisi musim 2025-26 menempatkan Kane sebagai pencetak gol paling produktif sejak era Lionel Messi pada 2011-12. Ia juga mengantar Bayern meraih treble domestik: Bundesliga, DFB-Pokal, dan Supercup Jerman.
Namun jalan Kane tidak mulus. Kegagalan Bayern di semifinal Liga Champions dan posisi ketiga Inggris di Piala Dunia 2026 menjadi catatan minus. Sementara dua pesaingnya punya modal lebih lengkap: Lamine Yamal (19 tahun) baru saja mengangkat trofi Piala Dunia bersama Spanyol, dan Kylian Mbappe (27 tahun) sudah berstatus juara dunia 2018.
Dampak bagi publik pecinta bola: narasi Ballon d'Or tahun ini menjadi duel menarik antara ketangguhan veteran melawan kecemerlangan generasi muda. Bagi masyarakat Inggris, Kane adalah harapan untuk mengakhiri puasa 25 tahun gelar Ballon d'Or sejak Michael Owen pada 2001. Sejarah menunjukkan pemain berusia 30-an masih bisa menang—Messi, Modric, dan Benzema membuktikannya dalam satu dekade terakhir. Namun apakah prestasi individu Kane cukup mengalahkan efek trofi Piala Dunia yang dimiliki Yamal? Jawabannya akan terungkap di London Palladium.