Pada 24 Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan “operasi militer khusus” di Ukraina, beberapa hari setelah mengakui kemerdekaan dua wilayah separatis, Donetsk dan Luhansk. Apa yang diharapkan hanya berlangsung beberapa bulan, kini telah bergulir selama empat tahun penuh, menjadikannya perang terbesar di Eropa sejak 1945.
Awalnya, pasukan Moskow melancarkan serangan dari berbagai arah, termasuk menuju Kyiv, melintasi Donbas timur, dan dari Krimea selatan. Pada Maret 2022, Rusia berhasil menguasai sekitar 27 persen wilayah Ukraina. Namun, momentum awal itu tak bertahan lama. Pada paruh kedua tahun 2022, Ukraina melancarkan serangan balik yang masif, berhasil merebut kembali posisi-posisi penting di oblast Kharkiv dan memaksa penarikan pasukan Rusia dari kota Kherson.
Menurut Institute for the Study of War (ISW) di Washington DC, pada akhir November 2022, Ukraina diperkirakan telah merebut kembali sekitar 74.000 km persegi wilayahnya, mengurangi kendali Rusia menjadi sekitar 19 persen dari total area negara. Sejak 2023, konflik bergeser menjadi perang gesekan atau “attrition warfare”, terutama berpusat di wilayah Donbas yang kaya mineral.
Rusia berhasil merebut kota-kota penting seperti Soledar dan Bakhmut setelah pertempuran berbulan-bulan yang brutal, lalu Avdiivka pada 2024, dan Pokrovsk pada awal Desember 2025. Namun, semua kemajuan ini didapat dengan biaya manusia dan material yang luar biasa mahal. Ironisnya, di tahun 2025, Rusia hanya mampu menambah sekitar 0,8 persen dari total wilayah Ukraina yang diduduki, dengan laporan Reuters menunjukkan kemajuan harian di Pokrovsk hanya sekitar 70 meter.
Ukraina sendiri tak tinggal diam. Pada tahun 2024, mereka melancarkan serangan kejutan ke wilayah Kursk di Rusia, menegaskan bahwa garis depan barat Rusia tidak sepenuhnya kebal. Sementara itu, penaklukan Pokrovsk oleh Rusia pada akhir 2025 dilaporkan oleh Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) telah membuka jalan bagi operasi di Dnipropetrovsk, yang mengakibatkan peningkatan kekerasan tiga kali lipat di wilayah tersebut. Kini, pasukan Moskow memusatkan pertempuran di sekitar pusat logistik Kostiantynivka yang mereka masuki pada Desember lalu.
Di balik semua pergeseran front, revolusi drone telah mengubah lanskap pertempuran, begitu pula serangan tanpa henti Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina, yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sipil. Perang ini bukan hanya tentang perebutan wilayah, melainkan juga pertarungan teknologi dan ketahanan, yang dampaknya terasa hingga ke pelosok dunia.