Setelah tiga bulan tanpa pasokan, sebuah kapal tanker berbendera Rusia akhirnya merapat di Kuba, membawa setidaknya 730.000 barel minyak mentah yang sangat dinanti. Kedatangan kapal bernama Anatoly Kolodkin ini menjadi oase di tengah gurun krisis energi parah yang melanda negara kepulauan tersebut. Yang mengejutkan, pengiriman bahan bakar vital ini diizinkan oleh pemerintahan Amerika Serikat, meski Kuba masih berada di bawah blokade energi AS.
Kapal tanker Aframax itu tiba di Teluk Matanzas, pelabuhan penyimpanan bahan bakar terbesar Kuba, pada Selasa pagi. Sejak Minggu malam, kapal yang sejatinya masuk daftar sanksi AS ini sudah terlihat mendekati perairan Kuba, tak jauh dari pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantanamo. Washington sendiri menyatakan mengizinkan masuknya kapal tersebut murni atas "alasan kemanusiaan."
Selama tiga bulan terakhir, Kuba benar-benar tercekik tanpa pasokan minyak. Presiden Miguel Diaz-Canel menyebut situasi ini sebagai penyebab pemadaman listrik tanpa henti di seluruh negeri berpenduduk 10 juta jiwa itu. Imbasnya fatal: rumah sakit, transportasi umum, hingga produksi pertanian terancam lumpuh. Tak heran, Menteri Energi dan Pertambangan Vicente de la O Levy menyampaikan terima kasih mendalam kepada pemerintah dan rakyat Rusia atas dukungan ini, menyebutnya "pengiriman berharga di tengah situasi energi kompleks yang kami hadapi."
Minyak mentah jenis Urals dari Rusia ini, jika berhasil diproses, diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan diesel Kuba selama sembilan hingga sepuluh hari. Memang, butuh beberapa hari hingga minyak mentah bisa diolah menjadi bahan bakar motor dan produk olahan lain seperti diesel untuk pembangkit listrik. Pasokan ini diharapkan memberi "ruang bernapas" bagi pemerintahan komunis Kuba yang terus menghadapi tekanan dari pemerintahan Trump.
Sebelumnya, Kuba sangat bergantung pada pasokan minyak dari Venezuela. Namun, pengiriman itu terhenti setelah adanya ketegangan antara AS dan Venezuela yang berujung pada sanksi dan masalah politik di sana. Situasi ini menyoroti kerentanan Kuba yang hanya memproduksi sekitar 40 persen dari kebutuhan bahan bakarnya sendiri, dan sangat bergantung pada impor.