Ketegangan di Tepi Barat memanas drastis setelah insiden penembakan yang menewaskan dua tentara Israel. Sebagai respons, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan penutupan total (lockdown) wilayah tersebut. Dampaknya paling parah dirasakan di Hebron, di mana sekitar 2.200 warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka setelah militer Israel menggelar razia besar-besaran dan mengumumkan evakuasi melalui pengeras suara pada tengah malam.
Wali Kota Hebron, Yousef al-Ja'bari, mengonfirmasi bahwa warga saat ini tidak bisa masuk maupun keluar dari kota. Situasi ini diperparah dengan tindakan militer yang membuldoser rumah dan kendaraan, serta penembakan granat kejut ke arah jurnalis. Otoritas Palestina (PA) mengecam keras tindakan ini sebagai "hukuman kolektif" dan mendesak intervensi internasional. Sementara itu, kelompok Hamas memperingatkan bahwa eskalasi kekerasan ini hanya akan memicu kemarahan lebih besar.
Dari sisi keamanan, militer Israel melaporkan telah menangkap sekitar 70 warga Palestina dalam razia yang tersebar di 15 area, termasuk Jenin, Nablus, dan Ramallah. Analisis pengamat politik menilai langkah agresif ini sarat dengan kepentingan politik internal Israel menjelang pemilihan umum, di mana Netanyahu berusaha menarik dukungan dari kelompok kanan menjelang pemilu 27 Oktober mendatang.