Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan kunjungan tiga hari ke kawasan Teluk untuk mengamankan pasokan energi dan memperkuat aliansi pertahanan. Langkah ini diambil saat Prancis dilanda gelombang protes keras terkait kenaikan harga energi dan kebijakan anggaran.
Dalam kunjungannya, Macron telah menyambangi Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) sebelum tiba di Bahrain, dengan Qatar sebagai destinasi berikutnya. Di Kuwait, Prancis menandatangani delapan kesepakatan strategis mencakup pertahanan, kecerdasan buatan (AI), dan investasi. Sementara di Abu Dhabi, Macron bertemu Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan untuk membahas kerja sama energi dan teknologi.
Data Kementerian Luar Negeri Prancis menunjukkan UEA merupakan importir terbesar Prancis di Teluk dengan nilai perdagangan bilateral mencapai 10,8 miliar euro (sekitar Rp182 triliun) pada 2025. Prancis juga memasok 18 persen kebutuhan senjata UEA, menjadikannya pemasok terbesar kedua setelah Amerika Serikat.
Analis menilai kunjungan ini sebagai gejala pergeseran geopolitik besar. Eropa dan Teluk disebut semakin bergantung pada keputusan keamanan AS yang membawa konsekuensi ekonomi dan politik mahal. Di dalam negeri, situasi Prancis memanas. Lebih dari setengah juta orang turun ke jalan menuntut perbaikan infrastruktur pendidikan dan penanganan krisis biaya hidup. Sebanyak 2.500 orang lebih telah ditangkap akibat aksi demonstrasi yang berujung pada penjarahan dan pembakaran.