Presiden Komisi Eropa, Ursula Von der Leyen, baru-baru ini menyuarakan desakan agar Iran segera mengakhiri segala bentuk permusuhan dan bersedia membuka pintu negosiasi. Seruan ini juga tegas meminta Teheran untuk mencabut pembatasan pelayaran yang selama ini diterapkan di Selat Hormuz, jalur maritim vital yang jadi urat nadi perdagangan global.
Langkah Von der Leyen ini tentu bukan tanpa alasan. Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint terpenting di dunia, tempat lewatnya sepertiga suplai minyak dan gas alam cair global. Gangguan sekecil apa pun di selat ini bisa memicu gejolak harga energi dan menciptakan ketidakpastian ekonomi di seluruh dunia. Apalagi, dengan memanasnya situasi di Timur Tengah dan gangguan pelayaran di Laut Merah oleh kelompok Houthi yang disinyalir punya hubungan dengan Iran, Uni Eropa melihat ada urgensi besar untuk menstabilkan kawasan tersebut melalui dialog. Ini menunjukkan kekhawatiran serius komunitas internasional akan dampak domino konflik regional terhadap stabilitas global, sekaligus menegaskan perlunya kebebasan navigasi untuk keberlangsungan ekonomi dunia.