Jalur Gaza kembali berduka. Serangan udara Israel menghantam sebuah bangunan di lingkungan Remal, Gaza City, dan menewaskan lima orang warga Palestina. Di antara korban, terdapat seorang ibu dan anak perempuannya yang merupakan warga Kristen Palestina, Maysa Abu Daoud dan Mary al-Najjar.
Peristiwa nahas ini terjadi pada Sabtu dini hari, sekitar pukul 01.30 waktu setempat. Keluarga korban menyebut serangan itu menghantam lantai dasar bangunan tempat mereka berlindung. Jenazah keduanya kemudian disemayamkan di Gereja Saint Porphyrius, Kota Tua Gaza City.
Kabar duka ini memicu reaksi keras dari pemimpin gereja. Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas apa yang ia sebut sebagai 'tragedi' tersebut. Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada komunitas Kristen di Gaza yang jumlahnya semakin menyusut.
Kedua korban dikenal sebagai sosok yang aktif membantu sesama. Mereka mendedikasikan waktu untuk membantu para jemaat dan warga terlantar yang mengungsi di Gereja Holy Family. Ketua Komite Kepresidenan Tinggi untuk Urusan Gereja Palestina, Ramzi Khoury, menilai kepergian mereka sebagai kehilangan yang sangat menyakitkan bagi keluarga dan gereja.
Cucu korban, Fouad al-Najjar (14), mengungkapkan keputusasaannya. Ia mengaku lelah dengan perang yang tak kunjung usai dan memohon agar kekerasan di Gaza segera dihentikan. "Kami sudah sangat lelah dengan perang ini," ujarnya.
Insiden ini menambah daftar panjang korban jiwa di Gaza. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 74.000 orang tewas sejak konflik meletus pada Oktober 2023. Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata, nyatanya serangan masih terus terjadi dan memakan korban, termasuk dari komunitas minoritas Kristen yang tersisa di sana.