Jakarta – Hubungan Beijing dan Pyongyang kembali memanas secara diplomatik. Pejabat nomor empat China, Wang Huning, baru saja menggelar pertemuan dengan petinggi Partai Buruh Korea Utara, Jo Yong Won, di Pyongyang. Langkah ini menjadi sinyal bahwa China serius mengunci aliansi tradisionalnya di tengah rivalitas global yang kian ketat.
Pertemuan ini merupakan rangkaian dari kunjungan Presiden Xi Jinping ke Korea Utara pada Juni lalu—yang pertama dalam tujuh tahun terakhir. Wang Huning menegaskan komitmen partai dan pemerintah China untuk merealisasikan kesepakatan yang telah dibuat Xi dengan Kim Jong Un. Keduanya disebut telah menyusun 'cetak biru strategis' untuk memperkuat hubungan kedua negara.
Menariknya, langkah ini terjadi di saat Pyongyang justru kian mesra dengan Moskow. Korea Utara baru saja menandatangani pakta pertahanan strategis dengan Rusia dan mengirim ribuan tentaranya untuk bertempur di Ukraina. Meski begitu, China tetap menjadi mitra ekonomi terbesar Korea Utara. Hal ini menunjukkan bahwa Beijing tidak ingin kehilangan pengaruh di Semenanjung Korea.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak juga membahas peringatan 65 tahun hubungan bilateral, kerja sama di bidang bisnis dan budaya, hingga peningkatan kesejahteraan rakyat. Analis dari Universitas Studi Korea Utara di Seoul, Yang Moo-jin, menilai rangkaian pertemuan tingkat tinggi ini mencerminkan keinginan bersama untuk saling mengamankan kepentingan. "Korea Utara butuh sokongan ekonomi dan geopolitik China, sementara China ingin mempertahankan pengaruhnya di Asia Timur," ujarnya.