JAKARTA - Kesepakatan minyak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin berjalan di tempat. Hingga kini, tidak ada satu pun pasokan solar Rusia yang berhasil masuk ke Amerika Serikat, meski kesepakatan sudah diteken sejak Oktober lalu.
Pantauan pelacakan kapal menunjukkan fenomena menarik. Setidaknya tiga tanker yang membawa solar Rusia dan semula dijadwalkan menuju Pantai Timur AS justru berbelok arah. Tanker Talisman dan Leruo, yang berlayar dari pelabuhan Primorsk, memilih mengubah haluan menuju Brasil dan Mediterania. Sementara satu tanker lainnya yang berada di Atlantik Utara mengubah status tujuan dari New York menjadi 'menunggu instruksi'.
Dilema ini muncul karena para pembeli masih diliputi rasa waswas. Meski Gedung Putih telah mengeluarkan pengecualian sanksi sementara melalui OFAC, larangan impor energi Rusia yang disahkan Kongres AS masih berdiri tegak. Alhasil, para pelaku pasar takut berurusan dengan hukum jika tetap membeli pasokan tersebut.
Padahal, kesepakatan yang diumumkan pada 9 Oktober itu menjanjikan pasokan besar-besaran. Trump menyebut Rusia akan segera melepas lebih dari 300.000 ton solar, disusul 500.000 ton pada November, dan 1 juta ton setelahnya. Janji ini muncul saat harga solar di AS melonjak hampir dua kali lipat imbas konflik AS-Israel dengan Iran.
Analisis dampak: Kegagalan pengiriman ini menjadi preseden buruk bagi stabilitas harga energi global. Di satu sisi, pasar global butuh pasokan tambahan untuk menekan inflasi. Namun di sisi lain, ketidakpastian hukum di AS membuat kesepakatan politik tingkat tinggi ini tidak berjalan efektif di lapangan. Masyarakat AS terancam menanggung beban biaya logistik dan transportasi yang tinggi lebih lama, sementara Rusia gagal meraup devisa dari jalur legal yang baru dibuka.