Situasi di Timur Tengah semakin memanas, terutama antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah hampir sebulan menjalankan kampanye udara intensif, AS kini dilaporkan telah mengerahkan ribuan pasukannya ke kawasan tersebut, sebuah langkah terbesar sejak Perang Irak. Ini mengindikasikan pergeseran strategi dari serangan udara menjadi potensi operasi darat yang lebih besar, memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik.
Pengerahan pasukan darat ini bukan tanpa alasan. Sejak 28 Februari, AS dan Israel telah melancarkan Operasi Epic Fury, membombardir lebih dari 9.000 target militer di Iran, termasuk markas Garda Revolusi Islam (IRGC), fasilitas rudal balistik, hingga pusat produksi drone. Iran pun tak tinggal diam, membalas dengan rentetan serangan rudal dan drone ke Israel, negara-negara Teluk Arab, serta pangkalan militer AS. Yang paling krusial, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati 20 persen minyak dunia setiap hari, menjadikannya titik tekanan strategis utama dalam konflik.
Menariknya, di tengah klaim Presiden AS Donald Trump soal negosiasiāyang dibantah keras oleh TeheranāPentagon justru mengirim sekitar 2.000 tentara elite dari Divisi Lintas Udara ke-82, ditambah dua unit Ekspedisi Marinir yang sudah bergerak dari sisi Pasifik. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan terang-terangan menyebut kemungkinan AS perlu mengamankan material nuklir di Iran secara fisik. Meskipun belum ada otorisasi resmi untuk operasi darat, pergerakan pasukan gabungan ini menjadi sinyal kuat akan peningkatan eskalasi militer AS di kawasan tersebut. Ini memicu kekhawatiran akan potensi destabilisasi lebih lanjut di Timur Tengah dan gejolak harga minyak global, yang tentu akan berdampak luas bagi perekonomian dunia.