Zimbabwe kini menjadi salah satu produsen lithium terbesar di Afrika. Namun, di balik geliat tambang raksasa itu, ada satu warna yang mendominasi: merah China. Sejumlah proyek besar, seperti Bikita Minerals, Arcadia Mine milik Prospect Lithium Zimbabwe (PLZ), hingga Kamativi dan Gwanda, semuanya digerakkan oleh investasi modal dari negeri Tirai Bambu.
Yang menarik, Zimbabwe tidak mau hanya jadi penjual bahan mentah. Pada April lalu, PLZāyang sepenuhnya dimiliki oleh Zhejiang Huayou Cobaltāmencetak sejarah dengan mengekspor lithium sulphate perdana. Produk olahan bernilai tambah tinggi ini diproses di fasilitas senilai 400 juta dolar AS di dekat Harare. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Zimbabwe serius membangun industri hilir lithium.
Bikita Minerals juga tak mau ketinggalan. Perusahaan ini menggelontorkan 400 juta dolar AS untuk membangun pabrik lithium precursor chemicals. Fase pertama proyek lithium sulphate mereka ditargetkan beroperasi pada kuartal kedua 2027 dengan kapasitas produksi 60.000 ton per tahun. Sementara itu, Badan Usaha Milik Negara, Mutapa Energy Minerals, bersiap membangun pabrik pengolahan konsentrat lithium di Tambang Sandawana, menggandeng Huayou Cobalt dan Tsingshan Holding Group.
Analisis: Dominasi China di sektor lithium Zimbabwe ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, investasi ini mempercepat industrialisasi dan membuka lapangan kerja. Namun, di sisi lain, risiko ketergantungan ekonomi pada satu negara rawan gejolak. Jika Beijing menarik investasi atau mengalihkan fokus, Zimbabwe bisa kehilangan pijakan. Model ini mengingatkan kita pada kasus nikel di Indonesia, di mana penguasaan rantai pasok oleh asing memicu perdebatan tentang kedaulatan sumber daya alam. Informasi dari media lain menyebutkan, China menguasai lebih dari 60% rantai pasok lithium global. Artinya, Zimbabwe hanya menjadi salah satu titik dalam peta besar ambisi energi Beijing.