Kesepakatan gencatan senjata energi yang baru saja diumumkan Presiden AS Donald Trump ternyata tidak berjalan mulus. Dalam waktu singkat setelah pengumuman tersebut, Rusia justru melancarkan serangan drone ke gedung hunian di Kharkiv, Ukraina timur laut, dan menghantam enam fasilitas energi Ukraina.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menegaskan bahwa serangan ini terjadi setelah Trump menyatakan gencatan senjata akan berlaku 'segera'. Menurut Zelensky, Rusia menargetkan stasiun gas, infrastruktur energi, dan fasilitas lainnya. Akibatnya, pemadaman listrik terjadi di Kota Izyum setelah jaringan listrik hancur, sementara infrastruktur energi dan kereta api di Ukraina barat juga menjadi sasaran pada malam hari.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, bahkan dengan tegas menyatakan bahwa Ukraina tidak pantas mendapatkan 'respit' atau jeda yang akan diberikan oleh gencatan senjata tersebut. Serangan ini mengakibatkan 33 orang terluka. Zelensky menyebut serangan ini sebagai 'jawaban Putin' terhadap Trump, dan menilai Rusia tidak memiliki keinginan untuk menerima gencatan senjata energi.
Operator jaringan listrik negara Ukraina, Ukrenergo, melaporkan pemadaman listrik baru di Kharkiv, Donetsk, dan Zaporizhzhia akibat kerusakan peralatan energi. Penjatahan listrik pun terpaksa diberlakukan untuk menghindari kelebihan beban pada peralatan yang rusak. Situasi ini menjadi pukulan telak bagi masyarakat sipil yang harus bersiap menghadapi musim dingin tanpa pasokan listrik yang stabil.