Pemerintah Yaman yang diakui internasional baru-baru ini melayangkan tuduhan serius terhadap Iran dan Hizbullah. Menteri Dalam Negeri Yaman, Mayjen Ibrahim Haidan, menyatakan bahwa sebanyak 21 ahli militer dari dua entitas tersebut dikerahkan ke Yaman untuk membantu kelompok Houthi. Rinciannya, 14 orang berasal dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dan 7 orang dari Hizbullah Lebanon.
Menurut pernyataan resmi yang dirilis Selasa lalu, keberadaan para ahli ini menandakan pergeseran bentuk intervensi asing. Jika sebelumnya hanya sebatas pendanaan, pengiriman senjata, dan pelatihan, kini mereka disebut sudah masuk ke tahap pengawasan langsung hingga ikut merencanakan operasi militer. Mereka tersebar di berbagai wilayah strategis seperti Hodeidah, Sanaa, Saada, hingga pelabuhan Khokha.
Spesialisasi mereka pun terbilang lengkap dan canggih. Mulai dari urusan komando, rudal balistik, drone, hingga perang elektronik. Tidak hanya itu, mereka juga disebut berperan dalam mengoordinasikan operasi laut, memilih kapal komersial sebagai target, mengembangkan perahu berisi bahan peledak, kapal selam otonom, serta melatih milisi dalam taktik pengeboman dan pengepungan.
Pemerintah Yaman memperingatkan bahwa aktivitas ini sangat berbahaya bagi stabilitas kawasan, khususnya jalur pelayaran Selat Bab al-Mandeb dan Laut Merah. Mereka mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan tegas, termasuk menetapkan Houthi sebagai organisasi teroris dan menegakkan embargo senjata sesuai resolusi PBB. Situasi ini semakin memanas karena bentrokan bersenjata kembali pecah di lima provinsi setelah Houthi menguasai pantai barat Laut Merah pada September lalu, merusak gencatan senjata yang sempat berlangsung sejak 2022.