SEOUL - Hubungan diplomatik antara Korea Selatan (Korsel) dan Ukraina memanas. Korsel resmi menarik duta besarnya dari Kyiv sebagai buntut perselisihan terkait dua tentara Korea Utara (Korut) yang ditangkap oleh Ukraina.
Kisruh ini bermula saat Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, secara blak-blakan mengumumkan bahwa pihaknya telah menyerahkan dua tentara Korut tersebut ke Seoul. Korsel murka karena Ukraina dianggap melanggar kesepakatan untuk merahasiakan transfer tersebut. Namun, kantor Zelensky bersikeras tidak ada perjanjian kerahasiaan (non-disclosure agreement) dalam proses itu.
Dua tentara Korut itu sebelumnya tertangkap saat bertempur membela Rusia di medan perang Ukraina. Mereka sempat menyatakan keinginan untuk dikirim ke Korsel. Kekecewaan Korsel memuncak ketika Menteri Luar Negeri Cho Hyun menyebut permintaan maaf dari pihak Ukraina tidak sesuai harapan. Situasi makin runyam karena juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Heorhii Tykhyi, membantah telah terjadi permintaan maaf.
Meski begitu, Kementerian Luar Negeri Korsel menyatakan akan terus melakukan konsultasi dengan pihak Ukraina untuk menyelesaikan berbagai masalah yang belum tuntas. Kebocoran informasi ini juga sempat memicu kritik domestik terhadap Presiden Korsel, Lee Jae Myung, yang dituduh ingin menutupi operasi tersebut demi menjaga hubungan dengan Pyongyang.
Analisis & Dampak: Insiden ini menjadi ujian berat bagi aliansi tidak resmi antara Korsel dan Ukraina. Di satu sisi, Korsel ingin menjaga prinsipnya untuk tidak mengirim senjata mematikan, namun di sisi lain mereka kesulitan menangani isu sensitif terkait pembelotan tentara Korut. Penarikan duta besar ini bisa memperlambat bantuan kemanusiaan dan non-militer Korsel untuk Ukraina, serta mempersulit koordinasi intelijen terkait pergerakan pasukan Korut di Rusia.