Warga Desa Madama, yang terletak di selatan Nablus, Tepi Barat, kini hidup dalam tekanan setelah lebih dari dua minggu terisolasi akibat pengepungan ketat yang dilakukan oleh tentara Israel. Sejak 11 Oktober lalu, militer Israel memblokir keempat pintu masuk desa menggunakan penghalang tanah dengan alasan keamanan. Akibatnya, akses bagi lebih dari 2.500 penduduk untuk keluar-masuk desa menjadi lumpuh total.
Pengepungan ini tidak hanya memutus mobilitas warga, tetapi juga memicu krisis ekonomi dan sosial. Wail Qut, seorang konsultan hukum yang tinggal di sana, mengungkapkan bahwa pihak militer bersikeras pengepungan akan berlanjut sampai para petani Palestina berhenti mengakses lahan mereka, terutama di area utara desa yang berdekatan dengan pos pemukim ilegal. Situasi ini diperparah dengan adanya operasi buldoser Israel yang menghancurkan lahan pertanian dan menumbangkan ratusan pohon zaitun, tepat di musim panen yang menjadi sumber penghasilan utama warga.
Warga sempat mencoba bertahan dengan membuat jalur tanah darurat untuk menghindari blokade, namun upaya ini berbahaya karena area tersebut dikepung pemukim. Militer Israel pun merespons dengan mengerahkan drone pengawas dan menembakkan gas air mata untuk memaksa warga mundur, sebelum akhirnya menutup jalur alternatif tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait aksi pengepungan yang melumpuhkan kehidupan warga sipil ini.