Kondisi di Aden, kota penting di Yaman Selatan, sedang memasuki babak baru yang penuh harapan. Warga kini bisa menikmati listrik hampir sepanjang hari, sebuah kemewahan yang tak terbayangkan sebelumnya. Bayangkan, dari bertahun-tahun dilanda pemadaman listrik parah, kini pasokan bisa mencapai 20 jam per hari! Ini bukan sekadar layanan dasar, melainkan simbol kuat bahwa ada perubahan signifikan di kota yang selama ini didera konflik berkepanjangan.
Perubahan positif ini terjadi setelah pemerintah Yaman yang diakui secara internasional berhasil mengembalikan kehadirannya di Aden, menyusul mundurnya Dewan Transisi Selatan (STC) pada awal Januari. Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan operasi militer Arab Saudi yang menekan STC. Menariknya, pasokan listrik yang kini stabil sebagian besar dimungkinkan berkat hibah bahan bakar miliaran dolar dari Arab Saudi. Ini terlihat sebagai upaya Riyadh untuk menunjukkan bahwa kehadiran pemerintah yang sah dapat secara nyata meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Namun, di balik layar, stabilitas di Aden rupanya sangat bergantung pada peran kunci seorang penasihat dari Komando Pasukan Gabungan Koalisi pendukung pemerintah Yaman, Falah al-Shahrani. Sejumlah pengamat menyebutnya sebagai 'penguasa de facto' Aden saat ini. Al-Shahrani disebut-sebut terlibat aktif dalam mengatur kembali militer dan keamanan, bahkan memindahkan kamp-kamp militer keluar dari kota. Ini menyoroti bahwa pemulihan Aden bukan hanya tentang kembalinya pemerintah, tetapi juga tentang pengaruh kekuatan regional, khususnya Arab Saudi, dalam menstabilkan kota pasca-perseteruan dengan sekutunya sendiri, Uni Emirat Arab, yang sebelumnya mendukung STC. Peningkatan layanan publik seperti listrik ini memang berdampak langsung pada kesejahteraan warga, namun sekaligus menjadi indikator penting pergeseran dinamika kekuasaan di jantung konflik Yaman yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade ini.