KRISIS KRIPTO: BINANCE DIBOBOL Rp100 TRILIUN - Berita Dunia
← Kembali

KRISIS KRIPTO: BINANCE DIBOBOL Rp100 TRILIUN

Foto Berita

JAKARTA - Dunia cryptocurrency diguncang kabar mengejutkan. Binance, bursa kripto terbesar di dunia, terpaksa menghentikan sementara semua aktivitas penarikan dan deposit dana setelah mengalami peretasan raksasa. Kerugian ditaksir mencapai 6,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp100 triliun (asumsi kurs Rp16.000), menjadikannya sebagai pencurian aset digital terbesar sepanjang sejarah.

Insiden ini terjadi dalam waktu singkat, hanya sekitar 20 menit pada Kamis malam waktu setempat. Peretas dilaporkan menguras dana dari dompet Binance yang tersebar di 10 jaringan blockchain berbeda. Angka ini jauh melampaui rekor sebelumnya, yaitu pencurian senilai 1,5 miliar dolar AS dari bursa Bybit pada Februari 2025 lalu.

Meski begitu, pihak Binance bergerak cepat. Mereka mengklaim telah membekukan sekitar 3 miliar dolar AS dari dana yang dicuri, berkat kerja sama dengan penerbit stablecoin seperti Tether dan Circle. Namun, nasib sisa dana sebesar 3,3 miliar dolar AS masih misterius dan dalam penelusuran.

Dalang di Balik Serangan

Dua firma analisis blockchain terkemuka di Amerika Serikat, TRM Labs dan Chainalysis, mencurigai serangan ini sebagai aksi kelompok peretas Korea Utara. TRM menyebut aktor intelektual di balik insiden ini adalah 'TraderTraitor', unit peretasan yang terafiliasi dengan Lazarus Group. Kelompok ini dikenal sebagai aktor siber yang sering menargetkan entitas keuangan untuk mencari keuntungan, dan telah disanksi oleh Departemen Keuangan AS sejak 2019.

Menariknya, pola serangan ini disebut mirip dengan kasus Bybit tahun lalu, di mana dompet korban dikosongkan ke dompet yang dikendalikan penyerang. Meski demikian, Co-CEO Binance, Richard Teng, masih hati-hati. Ia menyatakan investigasi internal belum menetapkan tanggung jawab kepada individu atau kelompok tertentu secara resmi.

Dampak bagi Pengguna

Bagi masyarakat, khususnya para investor kripto di Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat keras akan risiko keamanan aset digital. Meskipun Binance menjamin dana pengguna 'aman' dan berjanji menutup semua kerugian, penangguhan layanan penarikan dana tentu menimbulkan kepanikan dan hilangnya likuiditas sementara.

Pakar keamanan siber menilai, kasus ini menyoroti celah pada sistem operasional bursa, bukan pada teknologi blockchain-nya. Spekulasi awal menyebut adanya kelalaian pada perangkat engineer (laptop) yang diretas, meski Binance membantah kebocoran private key. Situasi ini diperkirakan akan meningkatkan tekanan regulasi terhadap bursa kripto global untuk memperketat protokol keamanan mereka.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook