Jurnalis dan komentator politik sayap kanan Amerika Serikat, Tucker Carlson, membuat klaim mengejutkan. Ia mengaku sempat ditahan dan paspornya disita oleh otoritas Israel di Bandara Internasional Ben Gurion. Tak hanya itu, salah satu kru produksinya juga disebut menjalani interogasi intensif. Kejadian ini mencuat setelah Carlson mewawancarai Duta Besar AS, Mike Huckabee. Namun, klaim ini langsung dibantah keras oleh pihak Israel, yang menyebutnya hanya prosedur rutin belaka. Insiden ini menambah panjang daftar ketegangan antara Carlson, tokoh berpengaruh di gerakan MAGA, dengan Israel yang semakin sering ia kritik.
Kehebohan bermula saat Carlson, dalam laporannya yang dimuat di The Daily Mail dan The New York Post, menceritakan pengalamannya. Menurutnya, petugas keamanan bandara tiba-tiba mengambil paspor mereka dan membawa produser eksekutifnya ke sebuah ruangan terpisah. Para petugas disebut ingin tahu secara detail isi pembicaraannya dengan Duta Besar Huckabee. Wawancara tersebut sendiri dilakukan di dalam kompleks bandara tanpa Carlson sempat keluar, sebelum akhirnya kembali ke AS.
Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menepis narasi Carlson. Marmorstein menegaskan bahwa mantan pembawa acara Fox News itu hanya 'diminta beberapa pertanyaan rutin secara sopan', sesuai prosedur standar yang berlaku untuk banyak penumpang. Ia menambahkan, percakapan itu sengaja dilakukan di ruang terpisah dalam lounge VIP semata-mata untuk menjaga privasi Carlson dan tim, bukan interogasi seperti yang diklaim.
Insiden ini terjadi tak lama setelah perselisihan publik antara Carlson dan Huckabee terkait episode yang diunggah Carlson tentang perlakuan terhadap umat Kristen di Israel. Huckabee kemudian mengundang Carlson untuk datang langsung ke Israel dan berdiskusi.
Meningkatnya kritik Carlson terhadap Israel belakangan ini telah menciptakan 'keretakan' di dalam Partai Republik AS. Padahal, partai tersebut dikenal memiliki dukungan yang kokoh dan tak tergoyahkan untuk Israel selama puluhan tahun. Klaim penahanan dan interogasi ini, terlepas dari kebenarannya, berpotensi semakin memperuncing friksi tersebut di tengah panggung politik Amerika dan menimbulkan pertanyaan tentang kebebasan pers serta perlakuan terhadap tokoh media di kancah internasional.