Jakarta, CNN Indonesia -- Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) semakin mengkhawatirkan. Hingga pekan ini, jumlah korban jiwa sudah menembus angka 232 orang, dengan total kasus mencapai 896 orang di 31 wilayah kesehatan. Yang lebih memprihatinkan, 17 tenaga medis ikut tewas, dan 75 lainnya terinfeksi.
Seorang pejabat senior Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Marie Roseline Belizaire, mengakui wabah ini 'berkembang sangat cepat' dan sistem kesehatan DRC kesulitan menangani. 'Ini harga yang sangat mahal yang dibayar oleh sistem kesehatan karena kekurangan tenaga medis,' ujarnya.
Penyebabnya klasik tapi akut: minimnya alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan dan masker. Banyak petugas kesehatan terpapar virus sebelum mereka sadar bahwa Ebola sudah menyebar. Data WHO menunjukkan rasio tenaga kesehatan di DRC sangat rendah, hanya 11 orang per 10.000 penduduk.
Krisis ini makin runcing di kamp-kamp pengungsian. Di Kamp Kigonze, Bunia, setidaknya 30 orang meninggal sejak awal Mei. Kondisi kamp yang padat, sanitasi buruk, dan penolakan warga untuk dites membuat virus berpotensi menyebar tanpa terdeteksi. 'Orang-orang tidak mati seperti ini sebelumnya,' ujar juru bicara kamp, Desire Grodya Bapi.
Pemerintah Kongo dan WHO kini berupaya keras. China dan Uganda disebut akan mengirim tim medis. Negara-negara Afrika juga telah menjanjikan dana hampir US$1 miliar untuk menangani darurat ini. Namun, para pejabat kesehatan memperingatkan bahwa wabah ini belum mencapai puncaknya.
Analisis Dampak: Situasi ini bukan hanya tragedi kemanusiaan di Kongo, tapi juga ancaman global. Jika wabah tidak terkendali di kamp pengungsian yang padat dan sulit diawasi, risiko penularan lintas batas ke negara tetangga seperti Uganda (yang sudah mengonfirmasi 19 kasus) sangat tinggi. Kegagalan sistem kesehatan di negara konflik seperti DRC menjadi pelajaran pahit: investasi pada tenaga medis dan infrastruktur dasar bukanlah pilihan, melainkan keharusan.