Hari ini, 16 Juni 2026, Afrika Selatan memperingati 50 tahun pemberontakan Soweto. Pada tahun 1976, ribuan pelajar kulit hitam turun ke jalan di Soweto, Johannesburg, untuk menentang kebijakan pendidikan diskriminatif rezim apartheid. Mereka nekat menghadapi peluru, anjing polisi, dan penjara demi menuntut hak belajar dalam bahasa ibu mereka.
Aksi heroik ini dipicu oleh aturan yang memaksa sekolah kulit hitam menggunakan bahasa Afrikaans—bahasa penguasa kulit putih—sebagai bahasa pengantar. Sebelumnya, pelajar diajar dalam bahasa Inggris dan bahasa lokal seperti Xhosa dan Zulu. Kebijakan itu dianggap sebagai penghinaan terakhir, karena pendidikan untuk warga kulit hitam memang sengaja dibuat minim kualitas, hanya untuk mencetak buruh murah.
Puncak tragedi terjadi saat polisi menembaki massa pelajar. Sebuah foto ikonik mengabadikan momen seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, Hector Pieterson, yang tewas ditembak saat digendong kakak perempuannya. Peristiwa itu memicu kemarahan massal dan menjadi titik balik perlawanan terhadap apartheid, 18 tahun sebelum rezim itu runtuh pada 1994.
Namun, di balik semangat peringatan, Presiden Cyril Ramaphosa mengakui bahwa generasi muda Afrika Selatan kini menghadapi tantangan berbeda. "Kalian berjuang mencari tempat di ekonomi yang masih menutup pintu," ujarnya. Krisis kemiskinan, pengangguran, dan kejahatan masih menghantui, terutama di komunitas kulit hitam. Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan bahkan memicu serangan terhadap imigran Afrika, memaksa evakuasi massal.
Pemberontakan Soweto mengajarkan bahwa perubahan besar berawal dari keberanian anak muda. Tapi perjalanan menuju keadilan sejati masih panjang.