BEIRUT, LEBANON – Mimpi buruk belum berakhir bagi puluhan ribu warga Lebanon Selatan. Meski perjanjian gencatan senjata dan kerangka kerja sama dengan Israel sudah diteken, nyatanya mereka masih terkatung-katung di pengungsian. Rumah-rumah rata dengan tanah, garis militer terus bergeser, dan janji penarikan pasukan Israel tak kunjung terealisasi.
Ali, seorang warga Desa Khiam, kini harus bertahan di Hasbaiyya, sekitar setengah jam berkendara dari kampung halamannya. Ia mengaku kehilangan arah. "Warga selatan hidup dalam tragedi," ujarnya kepada Al Jazeera. "Ini semua akibat politik yang gagal dan tragedi yang berulang."
Meski ada kesepakatan kerangka kerja pada Juni lalu untuk penarikan mundur Israel secara bertahap, fakta di lapangan berkata lain. Israel justru makin dalam mencengkeram wilayah selatan Lebanon. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan terang-terangan menyatakan pasukannya tidak akan meninggalkan Lebanon. Ini memicu kekhawatiran akan pendudukan jangka panjang, mirip dengan 22 tahun pendudukan sebelumnya.
Ketegangan memuncak ketika Hezbollah meluncurkan roket ke Israel pada 2 Maret lalu, aksi pertama dalam lebih dari setahun. Serangan itu disebut sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata November 2024 dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Israel pun membalas dengan intensifikasi perang untuk kedua kalinya dalam kurang dari dua tahun.
Akibatnya, lebih dari 1,2 juta orang terpaksa mengungsi. Di balik apa yang disebut "Garis Kuning" – batas zona pendudukan Israel yang mencapai 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon – Israel terus meledakkan rumah-rumah warga. Analis politik Mohamad Bazzi menilai Israel sengaja mengosongkan dan menghancurkan desa-desa garis depan. "Ini cara menerapkan model Gaza di Lebanon," tegasnya.
Sekitar 50 desa garis depan, termasuk Khiam dan Bint Jbeil, kini porak-poranda. Pemerintah Lebanon sendiri tetap melanjutkan negosiasi yang dimediasi Amerika Serikat, meski ditentang Hezbollah. Salah satu poin kesepakatan adalah pembentukan "zona percontohan" yang akan diserahkan ke Angkatan Bersenjata Lebanon, yang kemudian melucuti senjata Hezbollah di wilayah itu.
Dampak bagi Masyarakat: Ketidakpastian ini menciptakan krisis kemanusiaan berkepanjangan. Warga kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, dan akses layanan dasar. Trauma psikologis mendalam, terutama bagi anak-anak dan lansia. Selain itu, ketegangan yang terus berlanjut berisiko memicu eskalasi konflik lebih besar di kawasan, yang bisa menyeret Lebanon ke dalam perang terbuka lagi.