Kondisi di Timur Tengah makin memanas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, secara tegas meminta Amerika Serikat untuk menunjukkan keseriusan dan realisme dalam negosiasi program nuklir. Ia mendesak Washington agar tidak lagi mengajukan "tuntutan berlebihan" yang mempersulit tercapainya kesepakatan.
Pernyataan Aragchi ini disampaikan di tengah kebuntuan perundingan tak langsung antara pejabat Iran dan AS di Jenewa, Swiss, yang baru saja selesai. Meski sempat ada sinyal kemajuan, kini Iran kembali menekankan bahwa kesuksesan butuh sikap lebih fleksibel dari AS. Perundingan lanjutan dikabarkan akan digelar bersama tim teknis di Wina dalam beberapa hari ke depan.
Amerika Serikat sendiri punya sederet tuntutan. Washington ingin Iran membongkar seluruh infrastruktur nuklirnya, membatasi rudal balistik, dan berhenti mendukung kelompok-kelompok sekutunya di regional. Sementara itu, Iran menunjukkan sedikit kelenturan untuk membahas pembatasan pengayaan uranium untuk keperluan sipil, namun bersikukuh tidak akan berkompromi soal rudal dan dukungannya terhadap proxy regional.
Di tengah alotnya diplomasi, ancaman militer justru makin nyata. Presiden AS Donald Trump, walau mengaku mendukung solusi diplomatik, berulang kali melontarkan ancaman untuk membombardir Iran jika kesepakatan tak tercapai. AS pun kini menempatkan kekuatan militernya terbesar di kawasan sejak invasi Irak 2003, termasuk kapal induk raksasa USS Gerald R Ford yang baru tiba di Haifa, Israel, pada Jumat lalu.
Iran tak tinggal diam. Teheran menegaskan tidak akan memulai perang, namun siap membalas serangan dan mengancam akan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan. Eskalasi militer ini membuat banyak negara khawatir akan pecahnya perang yang bisa memicu konflik regional lebih besar. China, misalnya, sudah meminta warganya segera meninggalkan Iran. Sementara itu, AS sendiri telah mengizinkan staf non-darurat kedutaannya di Israel (dan sebelumnya Lebanon) untuk pulang. Langkah serupa juga diambil oleh Kanada, India, Inggris, dan Polandia. Situasi ini jelas menunjukkan betapa gentingnya kondisi di Timur Tengah saat ini, di mana nasib damai atau perang seolah berada di ujung tanduk.